Feeds:
Pos
Komentar

Oyos Saroso H.N.

Tulangbawang

—————

Cassava farmers in Lampung — one of the poorest provinces in Indonesia — are reaping the benefits of bioethanol factories springing up in the area.

Bioethanol refineries, including PT Medco Energy, PT Acida Tama, PT Madusari Lampung Indah and PT Sungai Budi, have flourished in the area, lifting production capacity to between 180,000 liters and 60 million liters annually.

Thanks to their presence, the production of cassava has surged significantly. In June, the price of cassava at the farmer level reached Rp 500 (US$0.5 per kilogram), compared to between Rp 150 to Rp 200 per kilogram previously.

The only company obtaining its supplies of cassava from farmers earlier was PT Sungai Budi, the biggest tapioca flour mill in Lampung.

A farmer in Tulangbawang, Ferdi Gunsan, 45, is enthusiastic about the presence of the bioethanol factories in Lampung and is looking forward to growing cassava on his 50-hectare farm.

“Growing cassava now is more lucrative than coffee or oil palm. A number of oil palm farmers have replaced their crops with cassava now. Besides the available bioethanol factories, technology to increase our output is also available now,” Ferdi, referring to the joined stem seedling method, said.

The joined stem seedling technique includes attaching the lower stem of the regular cassava with the upper stem of the entres variety cassava, better known as the singkong karet.

Usually, the lower stem is selected from the stem of a plant which is 11 months old with a stem around 2 centimeters in diameter.

The lower stem is generally taken from the Kasetsart variety from Thailand, while the upper stem is the local variety, with a diameter of around 1 centimeter and 15 to 30 centimeters long. Farmers can yield 60 to 100 tons of cassava from a one-hectare plot by applying the method.

Farmers with limited capital usually work with bioethanol producers, such as in East Lampung, where Suparlan, 40, works with other farmers in collaboration with PT Madusari Lampung Indah (MLI).

MLI collaboration manager Susilo Sugiarto said in cooperation agreements farmers were only required to provide land, while MLI provided the working capital and guaranteed the market price.

“The working capital package consists of seedlings, compost, pesticides and dolomite lime worth Rp 5.5 million for each hectare of cassava farm. We are working together with around 1,400 farmers from 46 villages in East Lampung,” Sugiarto said.

With a production capacity of 50 million liters of ethanol annually, MLI is currently operating around 1,600 hectares of cassava farms. It aims to manage 4,000 hectares of cassava farms by extending the partnership system to farmers in East and South Lampung.

To meet supply needs, MLI needs at least 4,000 hectares of cassava farms yielding between 60 to 100 tons per hectare, Susilo said.

“The partnerships have only reached 1,600 hectares. The current contract price of cassava has been mutually agreed on at Rp 280 per kilogram. However, we will increase the price because it hovers between Rp 350 to Rp 400 per kilogram on the market now.”

Farmers are able to reap more than Rp 8 million even if the price is set at Rp 300 per kilogram, because harvests from joined stem seedlings yield 60 tons per hectare, a gross profit of Rp 18 million.

In Indonesia, investors generally use land which has been grown with cassava traditionally to meet supplies for their raw material.

While the main cassava farming area in Lampung spans an area of 3,000 hectares, other farms are spread throughout Southeast Sulawesi and Java, while farms cover under 1,000 hectares.

Nitti Soedigdo is the leader of the Makmur village cooperatives unit in Pugung Raharjo village in Sekampung Udik district, East Lampung. He said the presence of bioethanol factories in Lampung was expected to revive farmers’ revenues.

“Cassava farmers in Lampung have so far lived a miserable life because of the low price of the commodity due to monopoly practices,” he said.

Bioethanol factories will act as a cassava price buffer because they need the commodity in huge volumes to meet their supplies of raw material, he said.

“Farmers are also in a strong bargaining position because they have so many choices over where to sell their harvests.”

Lampung Governor Syamsurya Ryacudu said the province had been targeted to become one of the largest bioethanol producers over the next five years.

Source: The Jakarta Post, Wed, July 2, 2008

Oyos Saroso H.N.

Tulangbawang/Lampung

Berdirinya sejumlah pabrik bioetanol di Lampung mulai menggairahkan para petani. Para petani di sentra singkong di Lampung seperti di Kabupaten Tulangbawang, Lampung Tengah, dan Lampung Timur, kini beramai-ramai menanam singkong.

Beberapa pabrik bioetanol yang sudah berdiri di Lampung antara lain PT Medco Energy, PT Acida Tama, PT Madusari Lampung Indah, dan PT Sungai Budi. Pabrik bioetanol itu memiliki kapasasitas produksi 180 ribu liter hingga 60 juta liter etanol per tahun.

Berdirinya pabrik beoetanol itu membuat harga singkong naik. Pada Juni 2008 harga singkong di tingkat petani Rp 500/kg. Sebelumnya, harga singkong hanya berkisar Rp 150-Rp 200/kg. Dulu yang membeli singkong petani hanya satu perusahaan, yaitu PT Sungai Budi, sebuah perusahaan tepung tapioka terbesar di Lampung saat ini.

Ferdi Gunsan, 45, salah seorang petani asal Tulangbawang, mengaku senang dengan adanya pabrik bioetanol di Lampung. Ferdi kini bergairah menanam lahannya seluas 50 hektare untuk ditanami singkong.

”Kini menanam singkong jauh lebih menguntungkan dibanding kopi atau kelapa sawit. Bahkan, saat ini sudah ada beberapa petani sawit yang mengganti kebunnya dengan tanaman singkong. Selain karena ada pabrik bioetanol, kini juga ada teknologi meningkatkan produksi tanaman singkong, yaitu dengan singkong sambung, ” kata Ferdi.

Singkong sambung adalah hasil teknik penyambungan antara singkong biasa dengan singkong karet. Batang bawah berasal dari singkong biasa varietas unggul, sementara batang bagian atasnya disambung dengan singkong karet. Biasanya batang bawah dipilih yang sudah berumur minimal 11 bulan, berdiameter sekitar 2 cm.

Batang bawah yang banyak digunakan jenis singkong Kasetsart dari Thailand. Sementara batang atas berupa pucuk singkong karet (entres), berdiameter sekitar 1 cm dan panjang 15—30 cm. Dengan teknik singkong sambung, petani bisa mendapatkan hasil 60 ton-100 ton/hektare.

Petani yang tidak punya modal lebih memilih menjalin kerja sama dengan perusahaan bioetanol. Suparlan, 40, petani asal Lampung Timur, misalnya, bersama para petani lain bekerja sama dengan PT Madusari Lampung Indah (MLI).

Susilo Sugiarto, Manajer Kemitraan PT Madu Lamoung Indah (PT MLI), mengatakan dalam kerja sama itu petani hanya menyediakan lahan, sementara PT MLI memasok modal dan menjamin pasar. ”Paket modal berupa bibit, kompos, dan kapur dolomit senilai Rp 5,5 juta/ha. Ada 1.400 petani dari 46 di Lampung Timur yang bekerja sama dengan kami,” kata Sugiarto.

Dengan kapasitas produksi 50 juta liter etanol per tahun, PT MLI saat ini sudah menggarap sekitar 1.600 hektare kebun singkong. PT MLI menargetkan bisa mengelola 4.000 hektare kebun singkong dengan pola kemitraan dengan petani di Lampung Timur dan Lampung Selatan.

Menurut Sugiarto, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku perlu 4.000 ha kebun singkong sambung yang produktivitasnya 60—100 ton/ha. Dalam kemitraan ini petani hanya menyediakan lahan, sementara PT MLI memasok modal dan menjamin pasar. Paket modal berupa bibit, kompos, pestisida, dan kapur dolomit, senilai Rp5,5 juta atau Rp6,5 juta setelah ditambah bunga.

”Kerjasama itu baru mencakup luasan 1.600 ha. Saat ini harga kontrak yang sudah disepakati Rp280/kg. Tapi harga ini akan kami tingkatkan karena harga singkong di pasaran sudah menembus Rp350—Rp400/kg,” kata Susilo.

Dengan kerja sama, jika harga singkong Rp300/kg saja, petani bisa untung Rp8 jutaan. Sebab, produksi singkong sambung minimal bisa 60 ton/ha sehingga hasil kotornya Rp18 juta.

Di Indonesia secara umum, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku para investor tengah memanfaatkan lahan yang selama ini digunakan sebagai areal budidaya singkong secara tradisional. Lokasi terbesar berada di provinsi Lampung. Lainnya tersebar di Jawa dan Sulawesi Tenggara. Areal lahan di Lampung lebih kurang mencapai 3.000 hektare, sementara di Pulau Jawa di bawah 1.000 hektare.

Niti Soedigdo, Ketua Koperasi Unit Desa Tani Makmur Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, mengatakan banyaknya pabrik bioetanol di Lampung akan mengembalikan kejayaan para petani. ”Selama ini para petani singkong di Lampung merana karena harga singkong sangat rendah akibatnya adanya monopoli,” kata dia.

Menurut Niti Soedigdo, berdirinya pabrik-pabrik etanol akan menjadi penyangga harga singkong karena pabrik-pabrik tersebut memerlukan bahan baku yang sangat besar. ”Petani pun memiliki posisi tawar yang kuat karena ada banyak pilihan tempat menjual hasil panennya,” kata Soedigdo.

Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu mengatakan Provinsi Lampung menargetkan lima tahun ke depan Lampung benar-benar menjadi lumbung bioetanol nasional. ”Program itu didukung dengan lahan yang masih sangat luas di Lampung dan kondisi tanah yang cocok untuk perkebunan singkong. Kami juga memberikan kemudahan para investor untuk menanamkan investasinya di bidang bioetanol di Lampung,” kata Syamsurya.

Oyos Saroso H.N.

Lampung Timur

Seperti umumnya desa-desa lain di Indonesia, Desa Talangsari hanyalah sebuah desa kecil yang sebagian penduduknya mengandalkan kehidupannya dari bercocok tanam. Selain padi, warga Talangsari selama berpuluh tahun menanam kopi robusta dan kakao. Namun, desa kecil itu pernah menggegerkan Indonesia karena terjadi sebuah tragedi pada 7 Februari 1989.

Pada sebuah subuh yang hening, ketika warga di kompleks pengajian yang dipimpin oleh Warsidi habis salat subuh di Musala Mujahidin, tiba-tiba berondongan senjata api datang dari tiga arah mata angin: selatan, utara, dan timur. Selang beberapa menit, sejumlah rumah di kompleks itu terbakar. Jeritan ibu-ibu dan anak-anak tak menghentikan terbakarnya rumah-rumah dan “perang tak seimbang” antara ratusan tentara dengan anggota jamaah Warsidi.

Meskipun di kompleks itu hanya berdiri 8 rumah milik anggota jamaah dan tiga rumah di dekat kompleks pengajian, jumlah korban diperkirakan mencapai ratusan orang. “Soalnya, pada hari itu kami kedatangan orang-orang dari luar Talangsari yang ingin ikut pengajian yang rencananya akan digelar pada 7 Februari. Para peserta pengajian itu datang seharin sebelumnya. Padahal, pada 6 Februari 1989 malam desa kami sudah dikepung tentara,” kata Jayus, 60, salah saksi hidup tragedi Talangsari.

Jayus, anggota jamaah Warsidi yang juga menjadi pemilik tanah tempat kompleks pengajian yang dipimpin Warsidi, mengaku sulit melupakan tragedi yang terjadi 19 tahun lalu itu. Jayus mengaku melihat anak-anak anggota jamaah berusia belasan tahun disuruh tentara untuk membakar rumah-rumah semi permanen di kompleks itu. Ia pun mengaku melihat sendiri bagaimana ratusan tubuh anggota jamaah Warsidi bergelimpangan karena hangus terbakar.

“Pada sekitar Pkl. 08.00 WIB, umumnya penghuni rumah dan pondokan di sana

telah habis dan yang tertinggal hanya nampak para orangtua, perempuan dan

anak-anak,” kata Jayus.

Menurut Jayus, para korban umumnya dalam kondisi terbakar hangus hanya

tinggal tulang belulang saja. Para korban itu kemudian dikuburkan sehari setelah kejadian hingga beberapa hari kemudian.

Jayus menyebutkan, paling tidak selama tiga hari itu, setidaknya tiap hari

dapat dikuburkan sekitar 50-an korban meninggal dunia walaupun proses

penguburan juga belum sempurna, karena beberapa bagian tubuh diantaranya

masih kelihatan.

Setelah kejadian itu, lokasi sekitar pengajian Warsidi di Talangsari ditutup

total oleh aparat TNI, hingga 5–6 bulan kemudian areal tersebut tidak boleh

dimasuki masyarakat sekitar.

Cerita lain pernah diungkapkan oleh korban Talangsari yang sudah berdamai dengan Hendropriyono, yaitu Sukardi dan Sudarsono. Sudarsono mengaku saat itu di kompleks pengajian Warsidi tengah beraktivitas kelompok militan Islam yang bertujuan akhir untuk mendirikan cikal bakal Negara Islam Indonesia (NII).

Menurut Darsono, mengaku tidak dapat berkompromi dengan aparat pemerintah dan aparat keamanan yang beberapa kali mengundang dan mengajak mereka berdialog dan menjelaskan aktivitas di sana. Anggota jamaah Warsidi justru minta camat dan Danramil Way Jepara, Kapten Sutiman, untuk datang bertemu penghuni pondokan yang kerap didatangi santri dan warga dari beberapa daerah di luar Lampung itu.

Kedatangan Sutiman, kata Darsono, disambut dengan serangan anggota jamaah sehingga menyebabkan Kapten Sutiman tewas dengan luka panah dan bacokan golok. Kematian Kapten Sutiman itulah yang mendasari Komandan Korem Garuda Hitam Letkol Hendropriyono ketika itu menyetujui anak buahnya menyerbu komples jamaah Warsidi hingga menewaskan ratusan orang.

Ketika saya mendatangi lokasi tragedi berdarah itu, Kamis, 7 Februari 2008 lalu, kesan Talangsari sebagai desa santri tidak begitu terlihat. Yang paling nyata: dusun yang kini berganti nama menjadi Dusun Subingkarya, Desa Labuhanratu III, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur itu kini menjadi desa tertinggal.

Memang di sepanjang kiri-kanan jalan menuju desa tampak hamparan sawah dengan tanaman padi yang subur menghijau. Tanaman kakao pun memenuhi kebun-kebun penduduk. Namun, jalan desa masih berlumpur karena tidak diaspal. Listrik pun belum masuk desa itu. Padahal, desa-desa sebelahnya sudah dialiri listrik semua.

“Selama ini pemerintah memang diskriminatif. Jalan-jalan di desa lain sudah diaspal mulus, tetapi jalan di kampung kami tetap berlumpur. Desa kami juga belum dialiri listrik,” ujar Suparmo, 65, warga Labuhanratu yang juga menjadi korban Tragedi Talangsari.

Amir, 62, juga korban tragedi Talangsari, mengaku pernah ditahan tentara selama 16 bulan. Pensiunan guru agama Islam di sebuah SD Negeri di Lampung Timur itu menuturkan, karena dituduh sebagai anggota jamaah Warsidi dan ikut mau mendirikan Negara Islam Indonesia, pada tahun 1989 dia hak-haknya sebagai pegawai negeri sipil telah dirampas. Sesuai menjalani penahanan tanpa proses persidangan di pengadilan—tanpa ada surat perintah penahanan dan tanpa ada surat bukti dikeluarkan dari tahanan pula—gajinya sebagai guru agama dipotong sebesar 50 persen.

Dengan golongan II B, alumnus PGA Negeri Klaten, Jawa Tengah, ini sejak 1989 golongannya tidak pernah naik hingga pensiun pada tahun 2005 lalu. Tragisnya, begitu pensiun, Amir tidak pernah mendapatkan uang pensiun.

“Saya sudah lelah mengurusnya. Kata Dinas Pendidikan saya harus minta surat keterangan bebas dari tahanan. Tapi surat itu tidak pernah bisa saya dapatkan karena memang tidak ada surat pembebasan saya,” ujarnya.

Pengalaman hampir serupa diungkapkan Parmo, 68, ayah 12 anak yang juga dituduh sebagai gerakan pengacau keamanan (GPK) Warsidi. Parmo mengaku selama setahun ditahan di LP Rajabasa Bandarlampung dan selama 5 tahun diharuskan wajib lapor ke Koramil Way Jepara. “Saya ditahan tanpa pernah diadili sampai sekarang. Yang paling menyakitkan, selama setahun saya dua hari sekali harus lapor ke Korem. Di Korem saya disuruh kerja kasar,” ujarnya.

Karena dicap sebagai anggota GPK dan pernah orang tahanan, kata Parmo, keluarganya menjadi berantakan. “Saya tidak bisa menyekolahkan anak-anak saya karena tidak ada yang membiayai mereka. Dari 12 anak anak saya, 11 di antaranya hanya bisa tamat SD. Yang tamat SMA hanya satu. Selain itu, kami juga dicap sebagai keluarga pemberontak,” kata Parmo.

Anggota Komnas HAM Kabul Supriyadhie mengatakan pihaknya sedang berusaha keras untuk menyelidiki kasus pelanggaran HAM dalam tragedi Talangsari. Sejauh ini, kata Kabul, sudah 84 saksi korban dimintai keterangan.

“Komnas HAM bekerja independen. Kami tidak takut memanggil tentara. Penyilidikan kasus ini penting artinya untuk mendapatkan kesimpulan apakah terjadi pelanggaran HAM berat 19 tahun lalu atau tidak. Kami hanya melakukan penyelidikan. Yang berwewenang melakukan penyidikan dan penuntutan adalah Kejaksaan Agung,” kata Kabul.

Investigasi Komite Solidaritas Mahasiswa Lampung (Smalam) mencatat terdapat 246 korban tewas dalam penyerbuan tentara terhadap kompleks pengajian seluas 3,5 hektare itu. Sementara versi resmi yang dikeluarkan pemerintah hanya 27 jiwa korban meninggal.

Oleh Oyos Saroso H.N.*


Kalau kita bandingkan kedua karya sastra klasik dunia itu, tampaklah bahwa para sastrawan aliran klasik dibimbing oleh akal. Dalam dua puisi itu, tidak ada jiwa yang meledak-ledak yang ditunjukkan penyairnya. Juga tidak ada gambaran protes sang penyair terhadap realitas. Sang penyair berbicara tenang. Pikiran penyair seolah-olah dikendalikan oleh logika yang ingin memberikan nasihat.

Dari dua puisi tersebut setidaknya kita tahu bahwa sastra klasik Yunani yang sudah tumbuh sejak tahun 500 sebelum masehi berpengaruh terhadap sastra klasik Prancis pada abad 17. Dalam sejarah sastra dunia, keterpengharuhan seorang sastrawan disebabkan adanya relasi sejarah antara negara para sastrawan. Sastrawan Prancis banyak terpengaruh oleh karya-karya klasik Yunani dan India karena sebelum Konstantinopel jatuh ke tangan Turki pada tahun 1453 yang menyebabkan hubungan Eropa dan Asia terputus, Yunani sudah menjalin hubungan selama berabad-abad dengan bangsa-bangsa Mesir, Persia, India, dan Tiongkok.

Mengapa para penyair aliran klasik suka memberikan nasihat? Salah satu sebabmua adalah karena mereka merasa bertanggung jawab kepada masyarakatnya. Pada zaman renaisance yang penuh gelora dan semangat baru untuk negara-negara modern menggenggam dunia, para pengarang klasik justru memiliki perasaan kolektif.

Sejarah sastra klasik di setiap negara tentu saja berbeda-beda. Perbedaan tersebut disebabkan oleh tingkat peradaban (melek baca dan modernisasi) setiap negara juga berbeda-beda. Kalau klasik Yunani sudah tumbuh jauh sebelum tahun masehi, di Prancis baru muncul pada abad ke-17.

Bagaimana dengan sastra klasik di Indonesia? Ajip Rosidi memberikan jawabannya: sastra yang berkembang setelah pertemuan dengan kebudayaan Eropa dan dunia dan mendapatkan pengaruh dari kebudayaan dunia disebut sebagai sastra modern, sedangkan periode sebelumnya disebut sebagai sastra klasik. Pengertian sastra klasik di Indonesia umumnya memang lebih menunjuk pada jenis karya sastra lama. Sastra modern di Indonesia sendiri sebenarnya usianya masih sangat muda, yaitu dengan berdirinya lembaga Balai Pustaaka, yang kemudian terkenal dengan zaman Balai Pustaka (1900-1933). Selanjutnya adalah zaman Pujangga Baru (1933-1942), angkatan 45 (1942-1950), zaman perkembangan (1950-1960-an), Angkatan 1966 (1960-an-1970-an), angkatan 1970-an, dan Angkatan 2000 (1980-an—2000-an).

Pengertian yang diajukan oleh Ajip Rosidi pada dasarnya mengandung banyak kelemahan. Salah satu sebabnya adalah karena Ajip hanya mendasarkan kategori sastra klasik sebagai lawan dari kategori sastra modern. Istilah klasik oleh Ajip Rosidi hanya didasarkan pada unsur kebahasaan saja. Padahal,. kalau dicermarti lebih dalam, sebenarnya banyak karya yang diciptakan pada zaman Pujangga Baru justru masuk dalam kategori karya klasik, yang lebih banyak mengedepankan unsur rasionalitas. Hal itu tampak, misalnya, dalam karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA), meskipun STA terkenal sebagai penyair yang mengangkat tema kematian.

II. Aliran Romantik

Aliran romantik adalah aliran dalam karya sastra yang mementingkan unsur perasaan, di samping unsur rasio. Aliran romantik merupakan bentuk penentangan terhadap aliran klasik. Menurut penganut aliran romantik, jiwa manusia tidak hanya terdiri atas pikiran, tetapi juga terdiri dari perasaan. Perasaanlah yang memberi garam bagi kehidupan. Sebab itu, untuk menentukan kebenaran suara hati atau perasaan juga harus didengarkan.

Yang dikenal sebagai Bapak Gerakan Romantik dunia adalah Jean Jaques Rousseau (1712-1778), filsuf Prancis kelahiran Swiss.

Di Indonesia, aliran ini tumbuh subur sejak zaman Balai Pustaka, Pujangga Baru, hingga Angkatan 45. Pertanyaanya, apakah setelah zaman Balai Pustaka hingga Angkatan 1945 Menariknya, sampai sekarang aliran romantik tetap mendominasi dunia kreatif perpuisian di Indonesia. Kalau kita cermati lebih seksama, maka aliran romantiklah yang menjadi “idola” banyak penyair generasi baru. Tentu saja, bukan sekadar romantisisme yang diungkapkan para penyair dalam karya-karyanya, tetapi romantisisme yang digarap berdasarkan pencerapan indrawi yang bersumber dari realitas sosial.

III. Aliran Realis

Aliran realis adalah paham dalam dunia sastra bahwa karya sastra harus mencerminkan realitas zaman. Karya sastra merupakan gambaran atau potret kehidupan manusia dan masyarakat. Para pengarang realis hendak menggambarkan keadaan sebagaimana adanya. Menurut para realis, sesuatu tidak boleh diperindah atau digambarkan lebih buruk daripada aslinya. Berbeda dengan para romantikus yang subjektif, para penganut aliran realis ingin lebih objektif dalam menulis karya sastra.

Aliran ini muncul sebagai kritik atas para pengarang yang hanya menulis berdasarkan dunia angannya belaka dan tidak peduli terhadap realitas sosial. Aliran ini menjadi trend dan mendapatkan sambutan yang luas ketika ideologi Marxis menyebar hingga sampai Indonesia. Pada tahun 1960-an (zaman Orde Lama) aliran ini mendapatkan tempat di hari para pengarang, sehingga muncullah dua kubu yang saling berhadapan. Kubu pertama adalah mereka yang memandang seni sebagai seni (kelompok Manifes Kebudayaan), sedangkan kubu lainnya adalah mereka yang memandang seni merupakan alat perjuangan untuk mengubah keadaan (kelompok Lembaga Kebudayaan Rakyat/LEKRA).

***

* Penyair, tinggal di Bandar Lampung

Daftar Bacaan:

Aoh Kartahadimadja, Alira Aliran Klasik, Romantik, dan Realisma, penerbit Pustaka Jaya, Jakarta, 1972

Ajip Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, penerbit: Binacipta Bandung, 1968.

Ensiklopedi Nasional Indonesia, edisi 14, 1990

Rizanur Gani, Pengajaran Sastra Indonesia: Respon dan Analisis, penerbit Dian Dinamika Press, Padang,

Mengenal Puisi

Oleh Oyos Saroso H.N.

Perbedaan yang paling nyata antara puisi dan prosa adalah dalam hal kepadatan. Bahkan, banyak ahli sastra dan pengarang yang mengatakan bahwa perbedaan antara puisi dengan prosa pada dasarnya hanyalah pada derajat kepadatannya (konsentrasinya) saja. Bahasa puisi lebih padat dibandingkan prosa. Kepadatan dalam puisi sering disebut sebagai gedicht (Belanda) atau Ditchung (Jerman).

Kalau bahasa puisi bersifat memadatkan (kondensasi), maka bahasa prosa bersifat menguraikan (dispersi). Itulah sebabnya bentuk puisi umumnya lebih pendek dan padat ketimbang puisi. Puisi merupakan hasil ekspresif kreatif penyair mengolah bahasa, sementara prosa adalah hasil ekspresif-konstruktif pengarangnya.

Karena mementingkan unsur kepadatan, maka puisi lebih bersifat sugestif dan asosiatif. Kata-katanya harus benar-benar terpilih sehingga bisa menimbulkan sugesti dan asosiasi tertentu. Dalam sebuah puisi, selain adanya irama atau unsur bunyi, juga terdapat metafora. Unsur metafor dalam puisi sangat penting. Sebab, metaforlah yang memungkinkan sebuah puisi berbeda dengan kata-kata indah biasa. Metafor juga menjadi sarana bagi penyair untuk membuat sebuah puisi menjadi sugestif dan asosiatif.

Secara kasat mata, puisi memiliki beberapa unsur pembentuk.Antara lain adalah suara/bunyi, kata, frase, kesatuan makna (unity of meaning), gaya bahasa (metafora, personifikasi, metonimi, sinekdok, alegori, perbandingan, perumpaan,dll), citraan/imaji (gambaran-gambaran angan)

Aneka Macam Aliran Puisi
Aliran dalam sastra (puisi, cerpen, novel, drama) pada dasarnya adalah paham atau keyakinan yang dianut seorang pengarang dalam melakukan proses kreatifnya. Keyakinan atau aliran pengarang akan terpancar dalam seluruh ciptaanya, baik dalam bentuk, isi, maupun sikap hidupnya.

Dalam sejarah sastra dunia, hingga kini setidaknya ada tiga aliran besar, yaitu aliran klasik, aliran romantik, dan aliran realisme. Masing-masing aliran mencerminkan zamannya. Di setiap negara, era pertumbuhan dan perkembangan aliran itu berbeda-beda. Selain itu, aliran tersebut tidak selalu berkembang atau bergerak secara linear. Artinya, pada suatu masa bisa saja terjadi dua aliran sekaligus berkembang secara bersama-sama.

I. Aliran Klasik

Aliran klasik adalah sebuah aliran dalam karya sastra yang mendasarkan karyanya pada rasionalitas akal. Dalam sejarah sastra dunia, aliran klasik dimulai pada zaman Renaisansce (zaman pencerahan). Salah satu tokoh terpenting aliran ini adalah Rene Descartes, yang terkenal dengan adagiumnya: Corgito Ego Sum (aku berpikir maka aku ada).

Menurut aliran ini, yang terpenting orang harus mempunyai pikiran yang jernih dan budi pekerti yang tinggi. Menurut Descartes, pikiran yang jernih hanya bisa dihasilkan oleh batin yang jernih. Karena mendasarkan pada pikiran jernih dan batin bersih itulah, maka tak mengherankan jika penyair penganut aliran klasik (hampir) selalu memberikan nasihat kepada pembacanya.

Perhatian dua puisi karya penyair dari zaman yang berbeda ini.:

KELEDAI DAN KULIT SINGA

Karya Jean de la Fontaine (1621-1695)

Keledai yang ditutup kulit singa
gempar orang di mana-mana
meskipun binatang itu jinak
disangka orang ia galak

Tetapi ketika telinga
tanpa disengaja tampak tersembul
tahulah orang ia bukan singa
sehingga si Badar pun berani memukul-mukul.

Orang lain yang tidak membuktikan
keadaan sebenarnya
tercengang kagum menyaksikan
seorang petani berani menghajarnya.

Demikian sering kejadian
orang meributkan kebenaran
yang sebagian besar
hanya benar di luar

(Terjemahan Utuy Tatang Sontani dalam Puisi Dunia I, kumpulan M. Taslim Ali, Balai Pustaka, Jakarta, 1958).

PETANI DAN ULAR

Karya Aesopus (500 SM)

Ada seekor ular menggigit, mati
si anak petani. Pak tani teramat sedih
lari membawa kapak dan menanti
di muka lubang. Pabila si ular keluar
kapak dihalau
tapi yang hancur batu karang, bukan si ular.
Khawatir, kalau-kalau
dendam membalas, maka berkata
Pak Tani,”Apakah laku kita,
aku dengan kapak dan engkau dengan bisamu?
Baiklah kita berkawan.”
“Bagi kita,” ujar ular,”payah berbaik teman
Aku, jika terlihat karang hancur,
Engkau, bila teringat anak dikubur.”
Kata sahibul hikayat, apa yang telat terselit
sulit dilupa untuk tiada sakit

(Terjemahan Jan Prins dalam Bahasa Belanda)

(Bersambung)

DAPUR IBU

Puisi Oyos Saroso H.N.

apakah yang kau tahu tentang rembulan?

di malam terang, terkadang, ibu mengupas kenangan
seperti nenek merebus ubi dengan kuali:
diuapkan dengan kukusan, saat mengepul dihidangkan

anak-anak duduk melingkar
di atas tikar pandan: sepiring buat ayah,
sepiring untuk si sulung, sepiring untuk si tengah,
sepiring lagi buat si bungsu

seperti biji randu tertiup angin, mereka saling merindu
dan beranak pinak sebanyak yang mereka ingin. tapi ibu,
si bungsu itu, tetap berada di dapur
dengan ritus sama: dapur, sumur, kasur

setiap paceklik tiba, ibu selalu merebus ubi
di pagi hari. juga menjelang bulan terang

“rebuslah aku,” kata kenangan

ibu menggeleng di muka tungku. kenangan pun
terus berbiak di dapur bersama ibu
yang terus membisu

Bandarlampung, Oktober 2006

Puisi ini pernah dimuat Media Indonesia Minggu dan terpilih menjadi salah satu dari 100 Puisi Terbaik Indonesia 2008 versin Pena Kencana.

LAMBAN KENALI*

Puisi Oyos Saroso H.N.

lukisan gugusan air mata ibu telah membawanya
menuruni teratak tangga kayu di depan pintu. hatinya berdenyar
saat tahu getah damar yang ditempelkan di dinding kayu dicuri orang

semalam ia menempelkan sejumput getah damar
di dinding belakang lamban. kata ibu, getah damar itu
akan mengundang seorang pangeran datang. dialah
pangeran berhidung mancung yang datang dan pergi
dari rerimbun Bukit Barisan dan balik gunung

“suatu waktu pangeran akan datang bertandang
untuk menjemputmu mengembara ke negeri harum belukar…”

ia selalu ingat pesan ibu. juga kini, ketika bijih besi
yang dikandung ibu bumi telah disulap menjadi untaian mimpi
ia pun terus menuruni anak tangga. sepoi angin tenggara
meriapkan helai-helai rambut aroma kemboja

ia baru tersadar telah menjejak tanah
saat seorang pangeran muda menunggang kuda datang

“apakah tuan yang akan membawaku ke pantai seberang?
getah damar telah mengabarkan, inilah saatnya aku berlayar…”

sang pangeran tersenyum dengan sedikit anggukan. lalu,
seperti angin, kuda itu berlari membawanya
dalam dekapan pangeran. di dermaga pantai di balik gunung
mereka pun berlayar…

berbilang purnama berbilang tahun, tak terdengar kabar
ia pulang untuk menyulam tapis di lamban. puluhan
perahu besar datang dan pergi mengangkut getah dan biji kopi
namun ia tak ada kabarnya lagi

di lamban Kenali, beratus tahun ibu mengurung diri
menanti anak gadisnya kembali…

Bandarlampung, Oktober 2006

*) rumah panggung khas Kenali, Lampung Barat
Puisi ini pernah dimuat Media Indonesia Minggu (2006)