Feeds:
Pos
Komentar

Telaga Echo

Puisi Oyos Saroso H.N.

barangkali engkau akan menjelma telaga
surga penampung air mata
atau
sekadar tempat beribu wajah
menikmati pukau bayang terbelah

tepat senja, saat matahari berlapis tembaga,
seekor belipis mencecap airmu
tiap tetesnya
menjelma mutiara berlapis suasa
barangkali
kaki jangkungnya segera mencelup palung
menangkap ikan-ikanmu
untuk dilemparkan ke balik gunung

kalau engkau telaga
seorang penyair akan menyihirmu diam-diam
menjadi tempat berlayar beribu kata
sementara
belasan belipis akan terus mengais mata penyair
hingga lepas dari kelopak
dan hanyut mengalir menuju hilir

–”tapi bukankah telaga itu tidak mengalir?”–

untunglah engkau bukan telaga
sehingga kita tak perlu cemas
orang-orang bergegas membasuh wajah
lalu dikutuk peri
untuk mencumbui diri sendiri!

Desember 2006

Iklan

Busur Ibu

Puisi Oyos Saroso H.N.

perempuan rembulan berambut aroma mawar
yang bergegas di hingar kota belukar
adalah anak panah yang dulu dilesatkan Ayah
dari busur Ibu

ia selalu mawar meski belukar telah melilitnya
dengan sulur berduri
tanpa nyeri

ia tak ngerti jalan kembali
kerna tiap jejak telah ditumbuhi semak, onak,
seling baja, misai keramat, dan cula badak

lelaki matahari yang menaklukkan
enam negeri peri dan mengarungi
tujuh belantara kota
adalah anak panah yang dulu dilesatkan Ayah
dari busur Ibu

sejak subuh hingga senja tersepuh warna tembaga
ia memintal nasib di antara serpihan badai,
gergaji besi,
dan wajah-wajah yang pasi

Ibu dan Ayah tak pernah tahu
apakah perempuan dan lelaki itu
suatu waktu akan kembali
dengan sekujur tubuh tertikam belati
atau membawa setangkai mawar belukar
penghias kamar

Ibu hanyalah busur
sementara ayah pemanah agung
yang telanjur ditenung
menjadi remah-remah sulur

Januari—Februari 2007

Tikawinko*)

Sajak-Sajak Oyos Saroso H.N.

gadis itu termangu di belakang pintu. di kilau
matanya tersimpan rahasia badai berabad lampau
tentang ulun Lampung yang gagah
tapi hilang ditelan desau yang pongah
tentang kapal-kapal VOC pengangkut getah damar
dan kembali dengan pendar benang sutera India

sebentar lagi keloneng canang dan keprak rebana
akan mengantarnya ke latar nuwo balak
tempat semua orang siap tergelak
menyaksikan gadis penenun tapis
menjelma ibu
berurai tangis

tapi ia masih di balik pintu
dengan siger dan serenja bulan di atas kepala
dan buah manggus di tangan
sementara
mulan temanggul, bulu serti, gelang burung,
dan belasan rajah memenuhi tubuhnya

mengingat semuanya, ia teringat berhektar repong
damar,
sarang kelemanyar,
dan serpihan luka lama yang selalu berdenyar

ingin ia melarung penghias kepala serupa mahkota,
juga mulan temanggul penghias dada
ke Way Haru biar ngalir ke laut lepas
atau
menetaknya dengan batu hingga kenangan tandas

tapi niat selalu urung
kerna takut tulah dan kutukan
–dia terkurung
bagai laron-sunglung tersesat di lurung suwung

ia pun menjerit pelan, menahan sakit
saat sebuah tangan dengan keras
menggamit

”bersiaplah! inilah waktumu
jadi Ratu Permata Dunia!

canang bertalu-talu, ia keluar dengan wajah
bersemu dadu

bersama suntan lelaki pilihan ibu,
ia duduk di atas tandu
namun
ia tak pernah tahu kapan serat-serat cintanya
akan bertemu
membentuk sulaman pada kain tapis
yang disulamnya sepanjang pagi-petang

hijau repong damar, padi menguning menghampar
kini tinggal kenangan. semua terkikis
untuk pesta adat
tujuh hari tujuh malam

beribu purnama pun lewat
bagai bayang berkelebat gagal dicatat
perempuan itu termangu di balik pintu
–menamatkan tisikan sulaman
tapis keseribu

kini ia pun tahu:
dua telapak tangannnya
lebih besi tinimbang batu!

Januari—Februari 2007

*) Perkawinan yang diatur oleh orang tua atau kerabat dalam masyarakat adat Lampung pesisir. Inisiatif perkawinan berasal dari orang tua atau kerabat mempelai laki dan perempuan.

Mengenal Puisi


Oleh Oyos Saroso H.N.

Berbicara tentang aliran pada dasarnya lebih berbicara tentang sejarah besar. Mulai dari sejarah sastra dunia, sastra nasional, hingga sastra lokal. Bagi seorang pengarang, mengatahui sejarah aliran sangat penting. Sebab, selain wawasannya menjadi lebih luas, dengan tahu pelbagai aliran sastra seorang pengarang akan bisa menentukan tema atau sudut pandangan tertentu dalam menulis karya sastra.

Lalu, apa gunanya bagi seorang apresiator, deklamator, atau pembaca puisi? Bagi seorang deklamator, aliran sastra jelas tidak banyak membantu untuk bisa membacakan puisi dengan baik.Tujuan terakhir seorang pembaca puisi profesional adalah sukses pentas di atas panggung. Dan itu, jelas, tak ada kaitannya dengan penguasaannya terhadap pelbagai jenis aliran puisi. Jadi, yang lebih penting bagi seorang deklamator atau pembaca puisi adalah pemahaman akan pelbagai tema puisi, penguasaannya memahami isi puisi, dan penguasaannya terhadap cara menyampaikan puisi itu kepada para penonton.

Karena tujuan akhir pelatihan sastra ini bukan mencetak seorang penyair, maka saya akan lebih banyak berbicara tentang puisi, terutama dengan apa saja puisi itu dibangun dan tema apa saja yang bisa dipakai untuk membentuk bangunan itu. Sementara aliran dalam puisi hanya akan saya sampaikan secara sepintas, sebagai gambaran bagi peserta pelatihan untuk masuk ke pemahaman yang intens tentang puisi.

Tulisan ini hanya bersifat pengantar. Selebihnya kita akan mengenal secara lebih dekat aneka puisi dengan melakukan praktek langsung dengan membaca dan membedah puisi, baik secara individual maupun kelompok.

Definisi Puisi
Sampai sekarang sudah ratusan bahkan mungkin ribuan definisi puisi diajukan oleh banyak kalangan. Namun, sampai sekarang tidak ada satu pun definisi tentang puisi yang bisa memuaskan semua kalangan.

Banyak sebab mengapa orang tidak bisa sepakat tentang definisi puisi. Salah satunya adalah karena puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan selera dan perubahan konsep estetiknya.Pengertian puisi pada tahun 1920-an akan berbeda dengan zaman sesudahnya. Semangat zaman akan mengubah pengertian dan konsep estetika puisi.

Altenbern mendefinisikan puisi sebagai “pendaramaan pengalaman yang bersifat penafsiran dalam bahasa berirama (bermetrum). Menurut Samuel Taylor Coleridge puisi adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Untuk menyusun kata-kata yang terindah menyair melakukan dengan pergulatan yang keras; memilih dan memilah kata sedemikian rupa sampai tercipta bangunan puisi dalam sebuah kesatuan yang utuh.

Woordworth mendefinisikan puisi sebagai pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Sedangkan Dunton mengungkapkan bahwa puisi adalah merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa yang penuh emosi dan berirama.

Dari pelbagai definisi itu setidak ada kata dua kata kunci yang penting, yaitu “perasaan” dan “indah”. Masalahnya, prosa pun menggunakan bahasa yang indah pula. Jadi di mana letak perbedaannya?

Mengutip A.W. de Groot, Prof. Slamet Muljana mengajukan perbedaan puisi dengan prosa sebagai berikut:

Kesatuan-kesatuan korespondensi prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis; kesatuan korespondensi puisi resminya—bukan kesatuan sintaksis—adalah kesatuan akustis.

Di dalam puisi korespondensi dari corak tertentu, yang terdiri dari kesatuan-kesatuan tertentu pula, meliputi seluruh puisi dari semula hingga akhir, kesatuan ini disebut sajak
Di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.

Menurut Muljana, yang dimaksud korespondensi adalah segala ulangan susunan baris sajak yang tampak di baris lain dengan tujuan menambah keindahan puisi. Umumnya tiap baris puisi terdiri atas bagian-bagian yang susunannnya serupa. Bagian itulah yang disebut periodus. Jadi, kumpulan sejumlah periodus itu merupakan baris puisi.Periodus adalah pembentuk baris sajak menurut sistem, sedangkan periodisitas adalah sistem susunan bagian baris sajak. (bersambung)


Oyos Saroso H.N.

Bandarlampung, Lampung

The endangered Sumatran elephant population is dwindling, as their natural habitat in protected forests in Lampung province have been diminished by both illegal logging and poaching.

Poaching of rare animals in South Bukit Barisan National Park (TNBBS) and Way Kambas National Park is increasing in frequency due to loose supervision by forestry officials and park rangers.

Poachers do not hunt for meat, but rather for the elephants’ valuable tusks. Elephant tusks, as well as tiger pelts and rhinoceros horns, are exorbitantly priced: Poachers reap a few hundred thousand rupiah per kilogram from middlemen for elephant tusks, while middlemen get about Rp 1.5 million (US$170.00) a kilogram from dealers. Tiger pelt fetches between Rp 10 million to Rp 15 million for skin measuring 1.8 by 2 meters. The price of rhino horn, fabled for its aphrodisiacal properties, goes for Rp 8 million to Rp 10 million per ounce.

“If poaching is not immediately stopped, rhinos, elephants and tigers in Lampung will be extinct in 10 years’ time. Moreover, they have a very long reproductive cycle,” said executive director of non-governmental organization (NGO) Watala nature lovers organization, Joko Santoso.

TNBBS data shows that from 1993 to 2003, more than 200 elephants were poached and more than three tons of elephant tusks were traded. In addition, hundreds of Sumatran tigers (Panthera tigris sumatrae) and dozens of rhinoceroses have been poached, their pelts and horns traded both domestically and internationally.

Investigative reports from the Wildlife Conservation Society (WCS) indicate that as many as 20 elephants have been killed, 33 tigers skinned and six rhinoceroses decimated each year in the park by poachers.

The rate of poaching is extremely high compared to the small population of elephants, tigers and rhinoceroses: South Bukit Barisan contains less than 500 elephants, 300 tigers and 60 rhinos now.

The park, designated a protected nature reserve since Oct. 14, 1982, is situated at the southern tip of Sumatra and covers about 360,000 hectares. Almost 300,000 hectares of the park is located in Lampung province, which stretches from West Lampung and Tanggamus regencies, while the remaining 60,000 hectares is in Bengkulu province.

Dwi Nugroho, a WCS activist, gave two motives for the rampant poaching in the protected forest: one, for sport or prestige; two, the lax supervision from park authorities, which provided an opportunity to poach freely.

The loose patrol and monitoring is evident in the scarcity of forest rangers and ranger stations. The park spans a geographical expanse containing mangrove, lowland and montane forests, and is protected by only 67 forest rangers based at two stations — at Kotaagung, Tanggamus regency, and Bengkunat, West Lampung.

Six unguarded roads lead to the protected forest, three of which are asphalted and are known to be used by poachers. Under such conditions, poachers are easily able to enter the forest, make their kill and get away unseen.

To compound matters, awareness of environmental protection and conservation issues is low among local villagers, who still consider elephants and tigers to be pests that must be exterminated.

Dwi also believes the light sanctions in place for violators — amounting to no more than a mere slap on the wrist — was one of the major obstacles to eradicating poaching of animals and trees both.

He cited Law No. 5/1990 on conservation of natural resources and ecosystems, which stipulates that anyone found poaching animals or wood in protected forests could face a maximum of five years’ imprisonment or a maximum Rp 100 million fine.

In practice, however, many violators are jailed only five months.

The poachers’ methods are inhumane: Poachers generally use guns or blowpipes loaded with tranquilizer darts to bring an elephant down, then hack off their tusks and saw off their feet or pry off their nails, leaving the elephant to bleed to death and rot in the jungle.

However, efforts to curb poaching are being made, and the South Bukit Barisan park, along with the West Lampung Police and several environmental NGOs have formed a Harimau-Gajah-Badak (tiger, elephant and rhinoceros), or HGB, anti-poaching team.

In addition, the WCS, the local Nature Resources Conservation Center, the Alas Foundation, Watala and the Lampung Alliance of Independent Journalists have established the Wildlife Crime Unit (WCU) to monitor poaching in the national forest. The WCU will be accompanied by Lampung Police on each inspection tour.

The endeavors of the NGO network has already resulted in a number of arrests of poachers, of whom several have been tried and convicted and are serving prison sentences at the Liwa Correctional Facility, West Lampung.

Source: The Jakarta Post, July 10, 2004

Oyos Saroso H.N.

Public figures who want to contend the Lampung governor race as independents have found democracy to be rather costly, with many possible contenders buying votes to secure enough political support to run.

One contender, Andi Arif, 37, said after securing the support of 170,000 residents in the past year, he faces difficulty finding the remaining 70,000 endorsements he needs to run in the next two weeks. Aside from a lack of time and money, he has to have obtained political support from 50 percent of 11 regencies and municipalities in the province.

Law No. 32/2004 requires independents to obtain support from a minimum of 4 percent, or 280,000 of the seven million people in the province, one of several legal requirements to contend the race.

Potential candidates must provide copies of residents’ I.D cards to prove they have acquired the necessary quota.

Andi, a former member of People’s Democratic Party (PRD) who was one of the victims of abduction by former president Soeharto’s authoritarian regime, said he would be the running mate to former rector of Lampung University Muhajir Utomo to contend the race, scheduled for Sept. 2, 2009.

Andi said he has had difficulty gathering political support as several residents no longer have their identity cards.

With Muhajir and their team, he set up special posts in sub-districts and villages to distribute basic commodities such as rice, cooking oil, kerosene and noodles to people in an effort to build their support base.

Former chief of the Jakarta Police Comr. Gen. (ret.) Sofyan Jacob claims to have collected I.D. cards from 140,000 residents — but admits to having spent a lot of money doing so.

He said he was optimistic about collecting copies of 280,000 I.D. cards from people in the 11 regencies and municipalities to be able to run for governor.

“I went from one village to another to seek support from people who only gave their political support if they were given something, like money, rice or other things,” Sofyan said.

Regional representative Kasmir Triputra and Lampung councillor Doroini Ali, renowned lawyer Hendry Yosodiningrat and Central Lampung regent Andy Achmad have also confirmed their candidacy as independents.

Kasmir admitted he had launched a preliminary campaign to gain enough endorsements, given the difficulty of collecting support from 280,000 residents.

His teams were deployed to villages to sponsor new identity cards for residents to secure their political support.

So far, four pairs nominated by political parties have confirmed their candidacy for the race. They are incumbent governor Sjachroedin Z.P. nominated by the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI Perjuangan), Alzier Dianis Thabranie nominated by the Golkar Party and United Development Party (PPP), Zulkifli Anwar by the Prosperous Justice Party (PKS) and the National Mandate Party (PAN) and former governor Oemarsono by a coalition of small parties.

Political analyst Jauhari Zailani of Lampung University said aside from meeting the demanding political quota for the gubernatorial election, independent candidates also had to contend with fierce competition with rivals nominated by political parties.

But independents who obtain support from 25 percent of the population would have a greater chance of winning, he said.

Independent candidates who had been required to collect identity cards could use them as a “hidden campaign” to maintain supporters’ loyalty on ballot day, he said.

Source: The Jakarta Post ,  Friday, 05/09/2008

Oleh Oyos Saroso H.N.

Menikmati puisi para siswa SMA Negeri 1 Bandar Sribhawono dalam Sastra Milik Siswa (SMS) edisi kali ini, kita seperti berhadapan dengan untaian kata-kata yang dibuat indah atau diindah-indahkan. Gaya pengungkapan para penulis puisi yang tampil kali ini seperti cara seorang remaja yang sedang mengisi lembar demi lembar buku hariannya. Kawan-kawan kita ini seperti hanya menuliskan begitu saja luapan perasaan dan pikirannya. Kita tidak melihat ada upaya untuk menyeleksi kata yang perlu dan tidak perlu, menatanya menjadi bangunan yang utuh-padu, dan menyusun kata-kata itu menjadi sebuah bangunan puisi yang mengandung makna dalam dan enak untuk dinikmati.

Tanpa melalui proses seleksi-menimbang kata dan menyusunnya dalam sebuah bangunan yang utuh, seorang penulis puisi atau penyair akan gagal menciptakan puisi. Dalam hal ini ada perbedaan yang tegas antara kata-kata yang sekadar luapan perasaan dengan kata-kata terpilih yang membentuk sebuah bangunan puisi.

Sederhananya, tidak semua hal yang berkecamuk di dalam perasaan jika diungkapkan dalam bentuk tulisan yang susunannya (tipografi) berbentuk puisi bisa dikatakan sebagai puisi. Kalau mencipta puisi sekadar menuliskan perasaan yang membuncah dengan tipografi puisi, alangkah banyaknya penyair yang lahir tiap hari karena sedang jatuh cinta dengan cowok atau cewek pujaannya atau terpesona dengan suatu hal.

Kalau kita perhatikan dengan seksama, tak satu pun penulis yang puisinya dipajang di ruang ini kali ini memakai unsur-unsur pembentuk puisi, seperti imaji dan metafor. Luapan emosi dan pikiran diungkapkan dengan bahasa apa adanya. Alhasil, puisi-puisi itu pun menjadi luapan jiwa dengan kata-kata yang kering. ”Kata-kata yang tidak bernyawa” atau ”kata-kata yang tidak berdarah”, kata seorang kritikus sastra. Seandainya mereka memanfaatkan imaji dan metafor untuk membangun puisinya, puisi-puisi yang dilahirkan tentu akan jadi terasa lebih hidup dan ”kuat”.

Memang bahasa puisi tidak harus selalu penuh dengan imaji dan metafor. Ada beberapa penyair kuat Indonesia yang menulis puisi dengan bahasa yang sederhana, tetapi puisi-puisinya tetap kuat dan sarat makna. Salah satunya adalah Joko Pinurbo. Penyair ini menjadi terkenal dan banyak dipuji justru karena ia memakai bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Namun, untuk sampai pada bentuk pengucapan dengan bahasa yang sederhana, Pinurbo telah melakukan kerja keras dengan melakukan pencarian bentuk, penggalian tema, dan penaklukan kata. Dengan begitu, meskipun bahasanya sederhana, kata-kata yang dipakai tetaplah kata-kata yang sudah melalui seleksi, pertimbangan, penataan, dan penyusunan begitu rupa sehingga membentuk kesatuan.

Coba perhatikan puisi Joko Pinurbo berjudul ”Celana, 1” berikut ini:

Ia ingin membeli celana barubuat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.

Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.

“Kalian tidak tahu ya,
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”

Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan,
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”

Sepintas puisi di atas sangat sederhana bahkan cenderung kekanak-kanakan. Namun, ia begitu padu. Begitu penikmat selesai membacanya, mereka mungkin akan tersenyum simpul.Menjadi padu karena kata dan kalimatnya membangun sebuah kesatuan. Isinya mungkin bukanlah hal yang besar atau hebat. Mungkin saja dimaksudkan untuk main-main. Namun, sebagai sebuah puisi ia telah membuat rasa takjub pembaca oleh permainan kata-kata yang tanpa terduga itu. Hal itu berbeda, misalnya, dengan puisi ”Pesona Jiwa” karya Chelistya Eryesma Anwar berikut ini:

Pesona Jiwa

Aku merasa di kedalaman jiwaku
Sumber cahaya itu bermula
Setiap aku menarik napas
Cahaya itu menebar ke angkasa

Aku memercikkan darah
Menghembuskan udara
Menyalurkan energi
Memancarkan cahaya

Tubuhku begitu indah
Berjalan seperti menari
Tersenyum seperti bunga
Memandang seperti matahari

Siapa pun yang melihatku
Merasakan tatapan mataku
Yang menelurkan keindahan
Keindahan tertimbun bertahun-tahun

Aku tersenyum memesona
Pepohonan menunduk hormat
Matahari membelai lembut
Angin menyisir kalbu
Seolah tersihir olehku

Puisi “Pesona Jiwa” karya Chelistya berbicara tentang jiwa. Si aku-lirik merasakan berada di dalam jiwanya, tempat sumber cahaya bermula. Pada baris-baris selanjutnya diungkapkan bahwa jiwa si aku-aku lirik adalah cahaya. Jadi, jiwa oleh penyair digambarkan serupa cahaya yang membuat tubuhnya menjadi indah, berjalan seperti menari, tersenyum seperti bunga, dan memandang seperi matahari.

Sampai di sini sebenarnya ada logika yang kacau. Pada bait pertama aku-lirik merasa di kedalaman jiwaku, tetapi baris-baris selanjutnya lebih menjelaskan bahwa aku sama dengan cahaya. Sepintas puisi Chelistya ini terasa ekspresif dan ”digali” dari kedalaman jiwa. Namun, keindahan ekspresifnya tidak terbangun dengan baik.

Kasus serupa juga terjadi dalam puisi Nunik Dyah Indraswari berjudul ”Misteri Illahi”:

Di tengah kebisuan malam
Anganku menerawang
Mencoba mencari dan memahami
Seonggok misteri Ilahi

Di sana sini petaka melanda
Meluluhlantakkan harta benda
Bahkan meleburkan harapan dan cita-cita
Apakah ini merupakan malapetaka
Akibat dari ribuan tumpahan dosa
Ataukah ini cobaan belaka
Untuk menguji hamba-Nya yang bertakwa

Iba jua hati ini
Melihat murka Ilahi Robbi
Terbersit tanda tanya
Haruskah kita introspeksi?

Menurut saya, puisi ini juga gagal sebagai puisi karena penulisnya terlalu terburu-buru merampungkan puisinya. Larik-larik puisinya tidak lebih dari ungkapan perasaan yang disusun dengan tipografi puisi. Kalau larik-larik itu dideretkan mendatar secara bersambung, tidak ada bedanya dengan catatan harian untuk mengenang kisah tragis banyaknya bencana yang menimpa manusia.

Semoga pembicaraan singkat ini bisa memacu para siswa dan penyair pemula untuk terus menulis puisi dan mengasah keterampilan dengan tekun sehingga potensinya makin berkembang.

*) dimuat di rubrik Sastra Masuk Sekolah (SMS) Harian Radar Lampung, Minggu, 22 April 2007