Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Bahasa’ Category

MENULIS CUACA

“aku ingin menulis cuaca”, katamu

lalu di depan pintu engkau termangu

teringat dua batang pohon tebu. dulu

dua batang itu kusiapkan untuk tangga

bagi tedak siti si bungsu

“tapi ia tak mungkin kembali,” katamu

lalu air mata pun leleh di kedua pipimu

kuhapus dengan cinta

untuk dia yang tiada

tapi air mata itu terus mengalir

menggenangi rumah

merendam luka bersama getah cintaku

kini kau selalu menulis cuaca

tiap pagi dan senja….

Bandarlampung, April 2008

Iklan

Read Full Post »

Banjir Akronim

Oleh Oyos Saroso H.N.

Sudah lama ”banjir” akronim dan singkatan terjadi di Indonesia. Pada masa Orde Baru, yang paling terkenal adalah akronim Orba (Orde Baru). Sementara singkatan yang pernah sangat terkenal adalah AMD (ABRI Masuk Desa). Begitu terkenalnya AMD sampai-sampai orang lupa bahwa AMD adalah singkatan yang diakronimkan. Kalau dipanjangkan, AMD akan menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Masuk Desa.

Tiga prinsip menyebabkan orang suka membuat akronim: mudah diingat, gampang dihafal atau diucapkan, dan enak didengar. Para jurnalis cetak bisa menghemat ruang halaman dengan adanya akronim dan singkatan.

Kalau singkatan tak membuat banyak orang jadi bingung, lain halnya dengan akronim.Banjir akronim yang ”terlalu” di media massa kerap membuat orang justru bingung karena tidak tahu arti sebenarnya. Yang pertama bingung tentu orang asing yang tidak terbiasa menemui gejala serupa di negaranya.

Seorang warga asing dari Maurisius pernah bertanya kepada saya,”Pilkada itu apa ya?” Saya jelaskan pilkada adalah singkatan dari pemilihan kepala daerah. Lalu ia kembali ”mengejar” saya dengan pertanyaan,”Kalau seperti pemilu, kenapa tidak menjadi pemilkada saja?” Benar juga, kalau taat asas seharusnya kita memang memakai kata pemilkada, bukan pilkada.

Baru satu kata Dave saja sudah pusing. Bagaimana jika dia membaca di koran ada akronim curat (pencurian dengan pemberatan), curas (pencurian dengan kekerasan), balonbup (bakal calon bupati), cawalkot (bakal calon walikota), dan musdapat (musyawakat daerah dipercepat)?

Orang Indonesia selama ini terkenal hebat dalam membuat akronim dan singkatan. Sebuah akronim bahkan daya pukaunya acap melebihi arti aslinya. Tengoklah, misalnya, akronim Ladia Galaska, Pujakesuma, Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), Bopunjur (Bogor, Puncak, Cianjur), Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Maminasata (Makassar-Maros-Sungguminasa-Takalar), dan Gerbang Kertasusila (Gresik-Bangkalan-Kertoseno-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan).

Seperti halnya Maminasata, Ladia Galaska bukanlah nama seorang wanita cantik atau mobil canggih. Ladia Galaska kependekan dari Lautan Hindia-Gayo Andalas-Selat Malaka. Ia merujuk pada sebuah wilayah geografis yang membentang dari pesisir barat Aceh sampai sisi timurnya (tepi Selat Malaka).

Ladia Galaska sering muncul di media cetak dan televisi ketika mantan Gubernur Aceh, Abdullah Puteh,”tersangkut” kasus korupsi. Ladia Galaska sendiri merupakan nama proyek pembangunan sebuah ruas jalan yang membelah Taman Nasional Gunung Leuser di Aceh hingga Sumatera Utara. Selain karena namanya yang memiliki daya pukau, Ladia Galaska menjadi terkenal karena kontroversial (membelah taman nasional) dan diduga merugikan negara hingga triliunan rupiah.

Pujakesuma juga memiliki daya pukau, seolah ia adalah sosok lelaki atau perempuan yang menjadi pujaan. Orang akan terkecoh, terutama kalau berusaha memisahkan kata itu menjadi dua bagian; puja (pujaan, yang dipuja) dan kesuma (bunga). Padahal, akronim itu kependekan dari ”Putra Jawa Kelahiran Sumatera”. Pujakesuma dipakai untuk menyebut anak keturunan orang bersuku Jawa yang lahir di Pulau Sumatera. Orang Jawa Timur tak mau ketinggalan, maka dibentuklah Jamur Kesuma (Jawa Timur Kelahiran Sumatera).

”Banjir” singkatan dan akronim menunjukkan bahwa orang Indonesia sangat kreatif. Hal itu membuktikan masyarakat kita memiliki kreativitas dalam berbahasa. Berkembangnya kreativitas dalam berbahasa akan membuat bahasa Indonesia menjadi lebih berkembang.

Selama ini tidak ada standard baku pembentukan akronim. Namun, ada semacam konvensi: akronim dibuat dengan mengambil unsur suku kata dari sebuah frase yang hendak diakronimkan. Calon presiden menjadi capres (mengambil dua suku kata pertama dari dua kata), sementara evaluasi belajar tahap akhir menjadi ebtanas. Namun, kenyataan sering menunjukkan pembuat akronim tidak mengambil unsur-unsur kata atau suku kata yang untuk membentuk akronim. Inilah yang sering membuat orang bingung.

Meskipun baik untuk ”metabolisme” bahasa Indonesia, asal menyingkat dan asal membuat akronim perlu dihindari. Bila tidak, akan terjadi banjir singkatan dan akronim yang justru berpotensi menghilangkan makna kata yang sebenarnya. Alhasil, masyarakat pun akan ”tersesat” dalam lemak kata-kata. Meskipun enak dieja, tetapi membingungkan.
sat” dalam lemak kata-kata. Meskipun enak dieja, tetapi membingungkan.

Read Full Post »

Oyos Saroso H.N.

Bangsa Indonesia tak kurang ujaran untuk menggambarkan pentingnya bahasa. Salah satu ujaran yang menjadi klasik adalah ”Bahasa menunjukkan bangsa”. Ujaran itu berarti baik-buruknya (pemakaian) bahasa yang digunakan sebuah bangsa menunjukkan tinggi-rendahnya (keluhuran) bangsa yang bersangkutan.

Ujaran itu kini barangkali sudah masuk ke keranjang sampah. Buktinya, betapa banyak di antara kita yang tidak peduli terhadap pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kerancuan berbahasa seolah dianggap kewajaran, sementara dominasi bahasa Inggris dianggap sebagai kehebatan penuturnya.

Dalam praktek berbahasa sehari-hari sering kita jumpai bahasa yang jumpalitan dengan makna yang tak jelas. Jangankan maknanya, subjek dan predikatnya pun sering tak jelas. Ironisnya, praktek berbahasa yang buruk itu bukan dilakukan oleh orang kampung yang memang tidak pernah belajar bahasa Indonesia di bangku sekolah, tetapi oleh aparatur birokrasi dan para jurnalis.

Periksalah bahasa surat-surat resmi yang dibuat lembaga pemerintah. Di sana akan kita jumpai pembukaan surat yang bertele-tele. Penuh basa-basi. Atau, tengok pula bahasa media massa cetak kita yang berlumur dengan bahasa pasar (bahasa gaul) dan kalimat sungsang.

Media massa termasuk salah satu penjaga bahasa resmi. Itulah sebabnya, banyak perusahaan media massa mempekerjakan ahli bahasa Indonesia untuk menjadi editor bahasa. Majalah Tempo, misalnya, dulu memiliki Slamet Djabarudi yang piawai menganyam kata sehingga majalah Tempo enak dibaca. Majalah Info Bank dan tabloid Kontan juga memiliki editor bahasa yang mampu ”menyulap” tulisan berbahasa njelimet menjadi tulisan yang enak dibaca dan tetap memenuhi kaidah-kaidah bahasa Indonesia.

Menjadi aneh bin lucu jika media massa justru memberi contoh berbahasa yang tidak baik. Mau bukti? Periksa judul berita berikut: ”Petugas KA Error Terancam Dipecat”, ”Tetapkan Kasatker Definitif”, ”NMI Launching Nissan Livina”.

Memang kita seriang mendengar istilah human error, yang kurang lebih berarti unsur kesalahan manusia. Namun, jika kata error juga dipakai untuk perugas kereta api tentu menjadi wagu. Bisa-bisa nanti ada bupati error, gubernur error, walikota error, dan sebagainya.
Judul-judul berita semodel dengan ”Tetapkan Kasatker Definitif” sering dipakai dengan alasan untuk menghemat ruang. Padahal, kalimat itu menjadi buntung karena tidak jelas mana subjeknya. Sementara kata launching dalam ”NMI Launching Nissan Livina” tampak betul kalau si penulisnya tidak berdaya menghadapi kuasa kapitalisme. Saya katakan kuasa kapatilisme karena mungkin launching dianggap lebih gagah dibanding peluncuran.

Berita-berita tentang bisnis di media lokal cetak selama ini berlemak istilah asing. Masih wajar jika istilah itu memang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia (itu pun seharusnya si wartawan mencantumkan artinya dalam bahasa Indonesia). Yang tidak wajar adalah jika pemakaian istilah asing itu untuk gagah-gagahan, sehingga manajer operasional pun harus ditulis operational manager, metalik abu-abu ditulis grey metalic, zona keselamatan ditulis safety zone, dan sebagainya.

Demi menyelaraskan dengan sasaran pembacanya, kata-kata semacam ce, co, perpus, gokil, sering bertebaran di koran. Karena kemalasan membuka kamus atau lantaran kebiasaan, kita juga sering menulis data-data dan kita-kita. Padahal, kata data (dari kata datum) dan kita sudah menunjukkan jamak.

Kita marah besar ketika lagu Rasa Sayange, batik, dan seni reog diklaim sebagai milik Malaysia. Tapi, kita lupa bahwa sebenarnya kita rakus juga. Buktinya, semua kata yang berbau asing dengan lahap kita telan mentah-mentah.

Sumber: Lampung Post, 16 Januari 2008

Read Full Post »

Oleh Oyos Saroso H.N.

Racun yang disebarkan televisi ternyata tidak hanya dalam hal gaya hidup dan mode. Sihir televisi, pelan dan pasti, kini juga meracuni pemirsa dengan hujan kata-kata asing yang sulit dimengerti publik awam. Disadari atau tidak, televisi telah menyebarkan kesalahan berbahasa yang dibalut dengan kata-kata gagah.

Salah satu acara televisi yang banyak menampilkan hujan kata-kata asing adalah “Super Mama Seleb Concert” di Indosiar. Dalam acara yang ditayangkan Indosiar ini, seorang bintang televisi dan ibunya diuji kepandaiannya dalam menyanyi. Penentunya bukan empat juri atau dukungan penonton lewat layanan pesan singkat, tetapi oleh 100 juri yang diundang ke studio. Ke-100 juri itu disebut sebagai juri vote lock.

Kenapa disebut juri vote lock? Pembawa acara maupun Indosiar tidak pernah menjelaskan makna juri vote lock. Pokoknya ya 100 juri yang diberi alat yang ada tombol warna hijau dan merah. Peserta yang mendapatkan banyak pilihan dari juri lewat pencetan tombol warna hijau dianggap unggul.

Di sepanjang acara yang berlangsung sejak pukul 18.00 hingga 24.00 WIB itu, pembawa acara Eko dan Ruben sering mengucapkan kata-kata kedelet, didelet, memvote, juri vote lock, dan voter. Mungkin karena memiliki rating tinggi—kata rating bagi televisi juga sering “membius” pemasang iklan—Indosiar melanjutkan acara itu dengan “Super Star Show”.

Acara ini bentuknya mirip dengan “Super Mama Seleb Concert “. Bedanya dalam soal cara penjurian, istilah juri yang memberikan suara, jumlah juri, dan orang yang diajak sang bintang dalam menyanyi. “Super Mama Seleb Concert” memakai juri istilah vote lock, sang bintang didampingi mamanya, dan jumlah jurinya 100, sedangkan “Super Star Show” memakai istilah star voter untuk juri, jumlah jurinya 100 di studio Indosiar dan 100 di Surabaya, dan sang bintang didampingi orang terdekatnya (soulmate).

Dalam “Super Star Show”, Eko Patrio dan Ruben Onsu sering meluncur kata one man one vote (untuk menjelaskan satu orang satu suara), memvote, perfom, kedelet, didelet, star voters (untuk pemilih bintang), vote lock, soulmate, dan uji soulmate. Ketika penghitungan suara akan dimulai, Eko berkata,”Inilah vote yang diperoleh….”

Pemirsa awam tidak hanya pusing sejuta keliling karena dihujani istilah-istilah asing nan aneh di telinga mereka. Mama Suhana (ibu pelawak Yadi) dan Mama Dahlia (ibu pemain sinetron Kiki Farel) pun sering terbata-bata mengucapkan kata vote lock sehingga sering terdengar sebagai “pot-lok”.

Vote lock adalah alat bantu untuk mendapatkan data hasil penghitungan suara atau penjurian dalam suatu forum dengan kapasitas hingga 100 orang per ruang. Alat ini dirancang dengan sistem kabel tunggal. Data hasil suara dapat langsung dilihat lewat layar. Alat ini juga bisa digunakan untuk penjurian suatu kontes maupun untuk melakukan ujian TOEFL atau pilihan ganda.

Karena memakai alat vote lock itulah maka para juri disebut Eko sebagai juri vote lock. Mungkin maksudnya juri kunci atau juri penentu. Mungkin juga karena para jurinya memakai alat ini dalam menentukan pilihannya. Pertanyaannya: bukankah juri memang seorang penentu pemenang dalam sebuah lomba? Pemakaian istilah yang serampangan dan asal comot menyebabkan acara itu menjadi tontonan lucu yang seolah sengaja merusak bahasa dan menjual kebodohan.

Mungkin saja tidak semua penonton bisa berbahasa Indonesia (karena memang orang asing). Namun, saya kira, kasus “hujan” bahasa asing pada acara Indosiar itu berbeda dengan pemakaian bahasa Inggris pada sejumlah petunjuk, iklan, dan brosur hotel.

Tentu akan lebih baik kalau Eko dan Ruben memakai kata tidak lolos (dalam lomba sering disebut gugur) untuk kata delet, sehingga mereka tidak berkali-kali memakai kata didelet dan kedelet. Ketimbang kata voter, Eko lebih pas memakai kata pemilih. Kata memilih juga lebih baik dan benar daripada kata mem-vote.

“Orang-orang televisi” mungkin akan bertambah gagah jika memakai kata-kata asing. Makanya, banyak acara televisi dengan istilah asing meskipun kata dan istilah itu sudah ada padanannya dalam Bahasa Indonesia. Kata host, star, headline news, sport corner, world news pun lebih sering diucapkan ketimbang pembawa acara, bintang, berita utama, pojok olahraga, dan berita dunia. Padahal, bahasa yang dipakai dalam acara-acara televisi tetap Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Inggris.

Ah, mungkinkah kita akan tampak lebih keren dan berkelas jika memakai “baju” milik orang lain?***

Sumber: Lampung Post, 12 Maret 2008

Read Full Post »