Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Esai Sastra’ Category

Mengenal Puisi


Oleh Oyos Saroso H.N.

Berbicara tentang aliran pada dasarnya lebih berbicara tentang sejarah besar. Mulai dari sejarah sastra dunia, sastra nasional, hingga sastra lokal. Bagi seorang pengarang, mengatahui sejarah aliran sangat penting. Sebab, selain wawasannya menjadi lebih luas, dengan tahu pelbagai aliran sastra seorang pengarang akan bisa menentukan tema atau sudut pandangan tertentu dalam menulis karya sastra.

Lalu, apa gunanya bagi seorang apresiator, deklamator, atau pembaca puisi? Bagi seorang deklamator, aliran sastra jelas tidak banyak membantu untuk bisa membacakan puisi dengan baik.Tujuan terakhir seorang pembaca puisi profesional adalah sukses pentas di atas panggung. Dan itu, jelas, tak ada kaitannya dengan penguasaannya terhadap pelbagai jenis aliran puisi. Jadi, yang lebih penting bagi seorang deklamator atau pembaca puisi adalah pemahaman akan pelbagai tema puisi, penguasaannya memahami isi puisi, dan penguasaannya terhadap cara menyampaikan puisi itu kepada para penonton.

Karena tujuan akhir pelatihan sastra ini bukan mencetak seorang penyair, maka saya akan lebih banyak berbicara tentang puisi, terutama dengan apa saja puisi itu dibangun dan tema apa saja yang bisa dipakai untuk membentuk bangunan itu. Sementara aliran dalam puisi hanya akan saya sampaikan secara sepintas, sebagai gambaran bagi peserta pelatihan untuk masuk ke pemahaman yang intens tentang puisi.

Tulisan ini hanya bersifat pengantar. Selebihnya kita akan mengenal secara lebih dekat aneka puisi dengan melakukan praktek langsung dengan membaca dan membedah puisi, baik secara individual maupun kelompok.

Definisi Puisi
Sampai sekarang sudah ratusan bahkan mungkin ribuan definisi puisi diajukan oleh banyak kalangan. Namun, sampai sekarang tidak ada satu pun definisi tentang puisi yang bisa memuaskan semua kalangan.

Banyak sebab mengapa orang tidak bisa sepakat tentang definisi puisi. Salah satunya adalah karena puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan selera dan perubahan konsep estetiknya.Pengertian puisi pada tahun 1920-an akan berbeda dengan zaman sesudahnya. Semangat zaman akan mengubah pengertian dan konsep estetika puisi.

Altenbern mendefinisikan puisi sebagai “pendaramaan pengalaman yang bersifat penafsiran dalam bahasa berirama (bermetrum). Menurut Samuel Taylor Coleridge puisi adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Untuk menyusun kata-kata yang terindah menyair melakukan dengan pergulatan yang keras; memilih dan memilah kata sedemikian rupa sampai tercipta bangunan puisi dalam sebuah kesatuan yang utuh.

Woordworth mendefinisikan puisi sebagai pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Sedangkan Dunton mengungkapkan bahwa puisi adalah merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa yang penuh emosi dan berirama.

Dari pelbagai definisi itu setidak ada kata dua kata kunci yang penting, yaitu “perasaan” dan “indah”. Masalahnya, prosa pun menggunakan bahasa yang indah pula. Jadi di mana letak perbedaannya?

Mengutip A.W. de Groot, Prof. Slamet Muljana mengajukan perbedaan puisi dengan prosa sebagai berikut:

Kesatuan-kesatuan korespondensi prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis; kesatuan korespondensi puisi resminya—bukan kesatuan sintaksis—adalah kesatuan akustis.

Di dalam puisi korespondensi dari corak tertentu, yang terdiri dari kesatuan-kesatuan tertentu pula, meliputi seluruh puisi dari semula hingga akhir, kesatuan ini disebut sajak
Di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.

Menurut Muljana, yang dimaksud korespondensi adalah segala ulangan susunan baris sajak yang tampak di baris lain dengan tujuan menambah keindahan puisi. Umumnya tiap baris puisi terdiri atas bagian-bagian yang susunannnya serupa. Bagian itulah yang disebut periodus. Jadi, kumpulan sejumlah periodus itu merupakan baris puisi.Periodus adalah pembentuk baris sajak menurut sistem, sedangkan periodisitas adalah sistem susunan bagian baris sajak. (bersambung)

Iklan

Read Full Post »

MENOLAK SEKTE SASTRA


Oleh Oyos Saroso H.N.

Seperti Ahasveros yang ditolak di setiap pintu, kritik sastra Indonesia berjalan tertatih-tatih mengejar luncuran bola salju yang memenuhi jagad kesusastraan kita. Krtik sastra indonesia selalu dicap gagal menafsirkan setiap gerak perkembangan karya sastra. Jagad sastra Indonesia kemudian justru dengan sejumlah politisasi sastra yang menjurus kepada ’penghinaan terhadap kreativitas’.

Persepsi demikian, saya tarik dari sejumlah perdebatan tentang legimitasi hadiah sastra, perdebatan sastra internet (cyber), perdebatan novel Supernova karya Dewi Lestari, sehingga perdebatan tentang antologi dari Fansuri ke Handayani, yang berbuntut perdebatan panjang itu. Semua perdebatan hanya melingkar-lingkar kepersoalan lama:stagnasi kritik sastra lama.

Pertanyaan kemudian masih relevankah kita meperbincangkan masih miskinnya kritik ditengah meruyakny karya?Siapakah kritikus sastra Indonesia yang hingga saat ini konsisten mengawal nilai karya sastra Indonesia?Haruskah kita akan terus menyerahkan tugas pengawalan nilai-nilai puisi, cerpen, dan novel Indonesia hanya kepada para pemimpin sekte sastra Indonesia.

Sebelumnya, berilah maaf jika saya menggunakan istilah sekte sastra. Itu hanyalah bahasa yang saya petik dari udara untuk memberikan identifikasi bagi kerja sastra yang tidak memerlukan ukuran, tanpa profesionalisme, dan hanya berdasarkan feeling yang sudah tentu sangat subyektif. Setelah muncul penolakan terhadap sentralitas dengan Taman Ismail Marzuki sebagai simbol tempat dan para penguasa sastra jakarta sebagai obyek yang harus dilawan, saya kira perbincangan tentang sekte-sekte sastra menjadi sangat penting.

Alasannya sederhana saja:setelah sekitar lima tahun berlalu, gerakan penolakan terhadap pusat ternyata mandul lantaran kurang amunisi. Selain itu, para penolak puast itu juga ternyata sedang membangun imperium baru sastra. Itulah salah satu bentuk sekte sastra. Sebagai sekte, tentu saja yang ada adalah penilaian mutlak-mutlakan, pengabdian total,sembari menegasikan pemikiran dan estetika lain. Perkembangan sekte sastra Indonesia berjalan seiring dengan perjalanan macetnya kritik sastra Indonesia.

Setelah kepergian H.B. Jassin, saya kira, tidak memiliki kritikus sastra yang siap menjaga nilai-nilai sastra Indonesia. Bukan saja kritikus yang berwibawa. Selebihnya, karya sastra terus lahir tanpa dikawal kritikus. Begitulah, ekologi sastra Indonesia tumbuh dan berkembang dalam kelimpahruahan karya, dengan nol kritik. Dari ekologi sastra yang tak sehat itulah muncul kritik ’kata pengantar antologi’ model tulisannya Budi Darma dan Faruk di kumpulan cerpen terbaik Kompas.

Di tengah kemelimpahruahan karya itu muncul pula para legitimator. Masuk dalam kelas ini adalah Tommy F Awuy, saat mengklaim Supernova sebagai tantangan baru bagi kritik satra Indonesia (Kompas, 11 Maret 2001). Juga Sutardji Calzoum Bachri yang ’melegitimasi’ penyair wanita Medy Loekito sebagai penyair yang layak diperhitungkan karena ’haiku’-nya.

Juga bagaimana Komunitas Sastra Indonesia (KSI) menggelar acara-acara sastra yang melambungkan nama Wowok Hesti Prabowo. Sialnya, legitimasi acap tidak fair dan obyektif. Legitimasi sastra acap tidak menyentuh ’darah-daging’ karya, tetapi lebih pada persentuhan permukaan. Semua itu terjadi karena ukuran sastra seolah hanya masuk ke keranjang sampah. Yang penting kemudian adalah feeling dan feeling. Dari arus itulah munculah apa yang dinamakan sekte-sekte sastra.

Sastra Indonesia kemudian dipenuhi barisan sekte. Kategorisasi karya sastra kemudian tidak di dasarkan pada analis ’baku mutu’, tetapi lebih pada feeling para pemimpin sekte. Bayangkan jika seorang penyair besar macam Sutardji Calzoum Bachri melakukan kerja kepenyairan, sekaligus kerja kritik hanya berdasarkan feeling! Bayangkan pula jika seorang redaktur sastra media massa tidak memiliki kapasitas yang baik di bidang sastra dan menyeleksi yang masuk berdasarkan cita rasanya sendiri.

Karena hanya mengandalkan kehebatan pemimpin sekte, jangan heran jika setiap pengiriman sastrawan untuk belajar di lowa ukurannya hanyalah seberapa dekat si satrawan dengan pemimpin sekte. Begitu juga untuk urusan workshop sastra, baik di dalam maupun di luar negeri. Sepintas ini memang persoalan remeh-temeh. Namun, bagi perkembangan sastra Indonesia pada masa depan, fenomena ini jelas membahayakan.
Kebanggan adanya pengakuan dari para pemimpin sekte, saya kira berbeda dengan kebanggan karena mendapat pengakuan dari kritikus sekelas Jassin. Soalnya jelas, meski sering dituduh tanpa ukuran, yang dilakukan jassin adalah murni demi kemajuan sastra Indonesia. Jassin sangat bertanggung jawab terhadap penilaian yang diberikannya. Ukuran-ukuran sastra Jassin pun jelas, sementara legimitasi yang diberikan oleh pemimpin sekte acap tidak jelas ukurannya.

Fenomena sekte-sekte sastra dalam jagad kesusastraan Indonesia hanya meneguhkan asumsi bahwa sastra Indonesia tidak pernah lepas dari mitos dan kontramitos. Siapapun yang bisa menghancurkan mitos, apalagi bisa menundukkan pusat-pusat kekuasaan sastra dan pemimpin sekte sastra, maka dia akan serta menjulang sampai ke ’langit ke tujuh’. Mitos dan kontramitos seolah menjadi paduan seiring bagi terjadinya perubahan atau revolusi estetika.

Amir Hamzah adalah mitos yang kemudian diluruhkan oleh Chairil Anwar. Setelah Chairil menjadi mitos, peluruhan dilakukan secara beramai-ramai oleh generasi sesudahnya: Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Goenawan Mohammad, dll. Pada dekade awal 80-an, mitos itupun dibongkar lagi oleh generasi yang lebih muda seperti Afrizal Malna. Begitu kuatnya hegemoni mitos itu, sampai-sampai Afrizal Malna nyaris ’terbantai’ pada masa awal kepenyairannya.

Persoalaannya kemudian, penghancuran mitos-mitos kepenyairan saat ini tidak dilakukan dengan dengan senjata kekuatan estetika, tetapi lebih dengan kekuatan lobi. Kritik sastra yang memiliki panglima sastra tidak segera muncul, kecuali saat peluncuran buku antologi puisi dan cerpen. Kemiskinan kritik sastra obyektif ini melahirkan sejumlah perdebatan yang mungkin tidak perlu karena di luar koridor dan ukuran-ukuran sastra. Sepanjang dekade itu 1980-an dan 1990-an, kritik sastra nyaris hanya bagai temperasan hujan. Ada beberapa nama yang masih disegani. Misalnya Budi Darma, Sapardi Djoko Damono, Korrie Layun Rampan, faruk, dan Nirwan Dewanto.

Namun, sayangnya, dekade itu tidak melahirkan kritikus yang sekelas Jassin. Para kritikus umumnya juga ’berprofesi’ sebagai satrawan, sehingga totalitasnya sebagai kritik masih kurang. Bahkan, kalau angkatan 45, angkatan 66, dan angkatan 70-an memiliki juru bicara, sastra angkatan 1980-an hingga 1990-an nyaris yatim piatu. Dekade itu sastra berjalan tanpa juru bicara, sampai ’lahirlah angkatan satra baru’ yang oleh Korrie Layun Rampan disebut ’Angkatan Sastra 2000’. Nilai-nilai sastra seolah berjalan ’tanpa pengawalan’, kecuali oleh para pemimpin sekte sastra, para penguasa pusat-pusat kekuasaan sastra, termasuk para penjaga gawang rubrik sastra-budaya media massa.

Bersama ’meledaknya’ sastra koran berapa sastrawan juga menghiasi ruang kritik sastra. Mereka antara lain Afrizal Malna, Radar Panca Dahana, triyanto Triwikromo, Eko Tunas, Adi Wicaksono, Gus Tf Sakai, Ahmad Nurullah, Jamal D Rahman, Agus R Sardjono, Cecep Syamsul Hari, Beni R Budiman, Eddy A Effendi, Ahmad Sybhanuddin Alwy, Nurzain Hae, Iwan Gunadi, dan lainnya.

Dari kampus ada Melani Budianta, Maman S Mahayana, Nyoman Tusti Eddy, Sunaryono Basuki Ks, dan lain-lain. Fenomena sastra koran inilah yang juga berpengaruh (atau bergandengan tangan) dengan kritik model ’temperasan air hujan’ alias kritik yang benar-benar tidak tuntas.

Kenapa? Mungkin, karena sebagian dari para kritikus atau pengulas sastra kita, meminjam istilah Budi Darma, memang hanya memaknai dunia sastra sebagai ’dunia sepintas lalu’. Mereka tak benar-benar selesai pada saat berbicara tentang sastra dan kritik sastra.

Soalnya kemudian, baik mereka yang mengeluh maupun mereka yang rileks saja mencermati kritik sastra, sama-sama tidak memberikan formula penyelesaian persoalan. Kritik sastra tetap menjadi ladang tandus, sementara karya sastra tetap bermunculan. Kritikus sastra mati dan gagal mengawal karya sastra. Posisinya kemudian direbut pemimpin sekte sastra, para legitimator, dan penjaga gawang rubrik sastra media massa.

Ekologi sastra Indonesia akhirnya menjadi tidak sehat. Di tengah-tengah meruyaknya penolakan terhadap pusat-pusat kekuasaan kesusastraan, misalnya, justru terjadi pembangunan imperium sastra baru, baik itu yang lewat justifikasi komunitas sastra maupun komunitas budaya. Mereka sama-sama menerapkan ukuran ambigu: menolak pusat (Dewan kesenian, pusat/lembaga kesenan pemerintah), sementara dirinya sendiri membangun kekuasaan yang tidak mengakomodasi keberagaman.

Karya sastra akan terus bermunculan, kritik sastra akan terus terbirit-birit, dan kita pun akan terus terkejut oleh ’fenomena baru’ dalam bersastra. Kita akan lebih mudah terkejut. Seperti orang terkejut lantaran nun di Bandung sana ternyata ada penyair muda sangat berbakat dan masih duduk di bangku SMA. Atau kita terkejut ketika menyaksikan bagaimana dunia show dan ngerumpi sastra lebih digemari ketimbang membicarakan persoalan sastra secara serius.

Kita agaknya harus berani menolak sekte-sekte sastra sembari membangun kemungkinan lahirnya kritik sastra yang memcerdaskan. Memang kritik sastra belum tentu didengar oleh para sastrawan. Namun, kehadirannya jauh lebih menyehatkan dunia sastra ketimbang kita harus terus menerus menyerahkan kepada para pemimpin sekte.***

Esai ini pernah dimuat Media Indonesia, 28 April 2002

Read Full Post »


I. Mungkin Dia Inggit
Ia hampir Inggit, ketika ia menulis: Adalah hujan/Yang mampu menyadur/Bahasa angin/Yang berdesir di titik air//.
Mungkin saja ia Inggit, ketika ia menulis angin di gorden turun naik/luka lidahku di lenganku/sisa cumbu yang pelik saat/adzan subuh menderik//. Sungguh, aku lupa, suatu saat dia pernah menulis sajak yang lebih berlemak seks untuk gadis seusianya. Apa judulnya? Aku lupa. Tapi aku pernah membacanya. Sempat hatiku tergerak untuk menulis tentang perempuan muda penyair yang tiba-tiba fasih berbicara soal seks itu. Tapi niat itu tertahan dan akhirnya lenyap begitu saja.
Untunglah dia menjadi Inggit, lalu menulis tentang tumbuhan, air, hujan, batu, telur, ayam, laut, lumut,daun, ricik air,–dengan sajak-sajak pendek yang kuat. Ah, aku ingat ada puisinya yang berbicara tentang tunas dan tumbuhan-tumbuhan. Menurutku itu puisi yang bagus sekali. Puisi yang ditulis dengan kefasihan. Fasih, karena penulisnya tahu betul apa yang sedang ditulisnya. Tapi, lagi-lagi sayang, aku lupa di mana puisi itu kini kesingsal.
Tak salah, dialah Inggit, ketika ia menulis “Senja dan Sedikit Perkiraan Tentangnya”. Begini ia menulis: Dari jendela rumah berwarna tembaga/Kusaksikan tangga dermaga semua/kiranya akan segera turun senja/Di ujung/Sebuah kota.
Ya, tentu larik-larik itu dengan tipografi yang “baru”. Tipografi masa kini, kata setengah orang. Tipografi yang sangat berbeda dengan tipografi para penyair puritan.
Bukan. Bukan karena tipografi puisinya maka perempuan penyair yang mungkin bernama Inggit layak dibicarakan. Ia memang lain. Bukan sekadar karena tipografi puisinya yang cantik seperti tipografi puisi Ari Pahala. Ia tidak seperti kebanyakan perempuan penyair Indonesia. Ia memberi warna lain bagi peta perpuisian Indonesia, meski warna lain itu katanya terkadang tersamar atau terhalang bayang-bayang para pendahulunya juga.
Katanya? Ya, kata setengah orang. Tapi aku tak percaya pada setengah orang itu. Nyatanya, Inggit (kini) berbeda dengan mereka yang disebut pendahulu itu, semisal Isbedy Stiawan Z.S., Iswadi Pratama, atau Ari Pahala. Dalam beberapa puisi Inggit memang terkesan suka berpanjang-panjang dengan larik, mengejar rima begitu tekun (ah, aku jadi ingat sebuah Sekte Anulad di Negeri Dongeng yang suka menulis tentang laut atau jembatan dengan kata-kata panjang mendayu-dayu, cuma untuk mengejar irama bunyi dan musikalitas).
Di tulis 10 April 2001 (saya menduga inilah tahun-tahun awal kepenyairannya), ia, mungkin Inggit namanya, menulis puisi “Makna-Makna” begini”:
Berapa makna di matamu,
Memberi retak pada batu
Yang diam
Di sudut malam
Berapa isyarat di matamu
Memecahkan,
Usang cermin
Menata bayang-bayang
Berapa makna
Isyarat mengabdi
Dan bersiasat.
Puisi berjudul “Sebelum Aku PergI (ditulis tahun 2000)”, seperti ini:
Terlalu kencang angin bertiup
Hingga ranting-ranting kamboja
Tak kuasa menahan dedaunan
Terpisah dari tangkainya
Aku masih di sini
Menghitung berapa nilai hujan
Membasahi ilalang
Hingga tak henti bergoyang
Melukis cahaya bulan
Yang jatuh berpendar
Kau tenang terlelap
Melupakan sajak yang kau buat
Menanti apa yang mesti kau jawab
Aku diam di sini
Kau tenang terlelap
Menurutku itu sebuah puisi yang sederhana. Namun, sebagai puisi ia berhasil. Tanpa mencangkih-canggihkan bahasa dan mengejar-ngejar rima, puisi itu sudah bicara begitu jelas.
II. Dia Memang Mau Menjadi Inggit
Aku tak tahu apa arti pendahulu bagi Inggit. Meski begitu aku sangat yakin, Inggit, seperti penyair lain di dunia mana pun, pernah membaca puisi-puisi para pendahulu. Dan mungkin, dalam satu-dua puisi, keterpengaruhan pendahulu itu ada. Setidaknya larik-larik tipografi, pola ungkap, pemakaian majas, metafora, dll, pastilah pernah Inggit baca dari para pendahulunya (lagi pula siapa yang tak pernah membaca para pendahulu?).
Dua puisi di atas, yang bisa dikatakan sebagai dua puisi yang mewakili puisi-puisi awal kepenyairan Inggit, sangat berbeda dengan puisi-puisi Inggit yang ditulis lebih belakangan. Tapi, aku malas bicara soal itu. Lebih baik kini kita bicara soal proses, sebuah proses mencipta yang oleh filsuf Alfred Whitehead sebut sebagai “proses untuk menjadi”.
Dalam proses “meng-Ada”, manusia pada dasarnya selalu dalam proses untuk menjadi. Menjadi apa? Tak lain dan tak bukan menjadi Manusia Utuh. Manusia yang pada dirinya sendiri memiliki potensi-potensi, kelemahan-kelemahan; manusia yang ingin selalu mengagregasikan seluruh potensi dirinya menjadi bagian dirinya yang utuh. “Menjadi Islam yang kaffah”, kata mereka yang beragama Islam; “Menjadi empu hebat,” kata pembuat keris.
Aku tak tahu bagaimana Inggit Putria Marga, mungkin itu nama panjangnya, berproses untuk menjadi penyair. Ya, ada baiknya kita perlu tahu bagaimana Inggit mengetam kata menjadi manik-manik frasa dan frasa-frasa itu membangun sebuah puisi yang utuh-padu.
Periksa puisi berikut:
dalam secangkir teh
sukma daun dan tubuh gula
berjumpa
laut tanpa prasangka
tak bisa lagi
mendua
(Puisi “Karena Air”)
Mungkin tidak bermaksud membuat haiku, tapi puisi tersebut menyaran seperti haiku: sederhana dan langsung telak ke sasaran. Perhatikan juga puisi berikut:
Ada yang menitik,
Sembunyi pada celah batu
Ada yang mengalir
Ada yang beku
(Puisi “Firman”)
Kali lain, Inggit menampakkan kenakalan tak terduga:
penyair : seandainya kamu penyair, apa yang kamu tulis?
temannya : ketidakindahan, sesuatu yang ada pada diriku sukar ditemukan
(Puisi “Penyair dan Temannya”).
Saya pribadi lebih menyukai puisi-puisi pendek Inggit. Saya bisa merasakan ekstase tekstual justru ketika puisi hadir di depan saya seperti orang menonjok, lalu tiba-tiba merintih sedih. Bukan seperti orang yang datang dengan tiba-tiba, lalu bercerita panjang tentang kisah pribadinya hingga berjam-jam. Apalagi kalau seseorang itu, mungkin juga bernama puisi, hendak membawaku larut dalam imajinasinya dengan kerajinan kata-katanya (persis seorang sales yang datang ke rumah untuk menawarkan barang) memaksaku untuk memahami pengalamannya menjadi pengalamanku juga.
Menurutku, Inggit termasuk sedikit dari penyair Indonesia yang masih memperhatikan semantik dan gramatika. Ah, soal ini—semantik dan gramatika– aku sering keqi sendiri kalau membaca sebuah puisi karya penyair Indonesia gramatikanya amburadul. Jadi penyair kok modal nekat, pikirku. Tapi begitulah dunia kepenyairan di Indonesia, banyak penghuninya yang notabenenya disebut penyair hanya numpang keren dengan status kepenyairannya. Penyair-penyair payah nan parah justru banyak menghiasi lembaran-lembaran media massa karena piawai bermain politik.
Oho, aku jadi ingat Nirwan Dewanto, si pongah yang tukang mencaci itu. Aku banyak beda pendapat dengan Nirwan dalam menilai puisi. Namun, aku setuju dengannya untuk satu hal: puisi yang baik adalah puisi yang mampu melahirkan ambiguitas, yang memungkinkan tafsir berlapis-lapis. Dengan rumpang antar-frasa, kata Nirwan (dan pasti Nirwan juga mengutip pendapat orang lain), kita mendapatkan permainan antara sunyi dan bunyi, rupa dan kekosongan, kata-hati dan kata-kepala.
Ya, puisi menjadi sering menakjubkan—bahkan sering tak disadari penyairnya sendiri—karena ada rumpang sunyi, ada imaji yang tak terduga, ada estetika dionisian yang ditawarkan. Puisi-puisi yang berhasil, yang membuat rasa takjub, biasanya bukan sekadar puisi yang ditulis dengan semangat pengrajin (ciri khas seni appolonian). Puisi yang berhasil pada dasarnya adalah puisi yang ditulis secara jujur, sebagai manifestasi proses internalisasi penyairnya terhadap pengenalannya tentang realitas.
Cara ungkap, pola ucap, ataupun kredo tertentu yang dihasilkan seorang penyair akan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, peresapan, dan penghayatan penyair terhadap entitas suku, warna lokal, kebijakan lokal maupun global yang dihayati penyairnya sebagai sebuah habitus (meminjam istilah Pierre Bourdieau).
III. Semoga Dia tetap Inggit
Saya tahu Inggit pernah menulis puisi panjang, naratif—seperti yang sedang menggejala dalam beberapa tahun belakangan ini. Bagus memang. Tapi, dalam puisi-puisi panjang itu, saya kok seperti melihat wajah Inggit yang lain. Ia mungkin terpaksa untuk tidak menjadi Inggit, sehingga harus menulis puisi yang panjang-panjang (padahal untuk mengungkapkan satu hal yang tak terlete-lete), mengejar-ngejar rima. Tidak. Ia justru menjadi Inggit Putria Marga jika bisa mengeksplorasi kekuatan yang ada pada dirinya dengan caranya sendiri, dengan bahasa ungkapnya sendiri.
Dalam penglihatan saya dari kejauhan, Inggit termasuk penyair yang sangat layak diperhitungkan dalam dua tahun terakhir. Saya belum menemukan ada penyair perempuan seusianya dari daerah di Indonesia yang sekuat dia. Ya, semoga ia kuat menjadi Inggit Putria Marga saja. Semoga—kalau ada—dia segera membunuh para pendahulunya…
Telukbetung, 23 November 2007
* Bahan diskusi Bilik Jumpa Sastra (Bijusa) Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni(UKMBS) Universitas Lampung, 24 November 2007

Read Full Post »

Oyos Saroso H.N.

Awal Agustus 2007, terjadi kehebohan di Bandung. Sebuah puisi karya Saeful Badar yang dimuat di rubrik Harian Pikiran Rakyat (4/8) dinilai sebagian pembaca telah menghina agama Islam. Puisi berjudul ”Malaikat” itu dinilai menghujat salah satu rukun Islam (percaya pada malaikat).

Larik-larik sajak ”Malaikat” berbunyi sebagai berikut:

Mentang-mentang punya sayap
Malaikat begitu nyinyir dan cerewet
Ia berlagak sebagai mahluk baik
Tapi juga galak dan usil
Ia meniup-niupkan wahyu
Dan maut
Ke saban penjuru

Seorang penyair, sastrawan, penulis, dan jurnalis senior di Bandung pun meradang. Ia menilai sajak itu sebagai sajak yang tidak memiliki estetika sastra dan tidak mengandung etika penghormatan terhadap agama. Ia pun mengharapkan umat Islam menuntut Pikiran Rakyat melakukan tindakan setimpal, baik terhadap penulis sajak itu maupun redaktur yang memuatkannya, serta membuat permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh pembaca “PR” yang mayoritas Muslim.

Menurut si penyair-penulis yang juga jurnalis itu, bagi setiap Muslim beriman, malaikat tidak memiliki sifat-sifat seperti yang dipaparkan Saeful Badar. Katanya, jika dibiarkan sajak semacam itu akan mengundang pertentangan dan kebencian bernuansa SARA. Terutama sentimen terhadap Islam dan kaum Muslimin. Saeful Badar juga dituduh sebagai penyair yang berada satu gerbong dengan para sastrawan kelompok Teater Utan Kayu (TUK) dan ”sastrawan liar” yang sering menulis karya sastra berbau seksis.

Kasus sajak Saeful Badar tersebut menegaskan, sekali lagi, masih ada ketegangan antara etika dan estetika dalam karya sastra. Di ruang sempit ini, saya tidak hendak membela Saeful Badar atau bahkan memperberat ”vonis” terhadapnya. Saya ingin mendudukkan masalah pada proporsinya untuk diambil hikmahnya bagi para penulis (penyair) pemula.

Terlepas dari makna sajak tersebut, saya melihat ada tuduhan yang berlebihan terhadap Saeful Badar. Sajak tersebut menurut saya biasa-biasa saja. Pemakaian kata ”mentang-mentang”, ”nyinyir”, ”cerewet”, ”berlagak”, dan sebagainya adalah upaya penyairnya untuk melakukan main-main dengan kata. Sebagai karya sastra, saya menilai puisi tersebut sebagai puisi yang gagal. Sebab, selain main-main kata dengan dunia main-main, tak ada estetika bahasa yang dieksplorasi oleh penyairnya. Logika penyairnya pun juga tampak ”tidak jalan”.

Dengan begitu, tuduhan bahwa Saeful Badar berada satu gerbong dengan para sastrawan penyebar nafsu daya rendah manusia yang oleh Taufik Ismail sebut sebagai ”Gerakan Syahwat Merdeka” (GSM), “Sastra Mazhab Selangkangan” (SMS), atau “Fiksi Alat Kelamin” (FAK) adalah berlebihan. Apalagi, sepengehuan saya, selama ini Saeful Badar tidak termasuk penyair yang suka menulis puisi dengankata-kata berbau seks.

Sajak atau puisi, bagaimanapun, adalah hasil ciptaan seorang penyairnya berdasarkan impuls-impuls yang didapatnya. Impuls, rangsangan kreatif, dan ide kreatif itu kemudian ditulis oleh penyair berdasarkan tingkat pencapaian estetika tertentu. Dalam sastra—termasuk puisi—adagium bahwa puisi adalah bebas nilai sampai hari ini masih berlaku. Meskipun begitu, banyak juga kalangan yang mempersoalkan masalah ”kebebasan” dalam karya sastra. Artinya, dalam praktek sehari-hari, ”kebebasan kreatif” seorang penyair, cerpenis, novelis, dan kreator sastra lainnya tetap ada batasannya. Salah satu batasannya adalah norma agama atau etika.

Karya sastra biasanya akan mengalami ketegangan, mendapatkan protes keras dari publik, dan dianggap ”bermasalah” jika sudah menyentuh soal aqidah atau ajaran agama tertentu. Di Indonesia, masalah Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) juga sering memicu ketegangan. Dengan begitu, karena sastrawan masih hidup dan tinggal di Indonesia, mau tidak mau harus memahami rambu-rambu. Artinya, pemakaian logika dan mempetimbangkan etika pun menjadi penting dalam menulis karya sastra. Apalagi, karya sastra dengan bahasa yang lugas.

Quran sendiri menempatkan malaikat sebagai makhluk yang sangat baik dan pengabdi setia Allah SWT. Beberapa surat dalam Quran yang menyebutkan watak, sifat dan peran malaikat, antara lain al Baqarah : 177, 285, Ali Imran 39,42,124, 125, an Nisa 97, 172, al Anfaal 9, 12, al Hijir 8, aqsy Syura 5, at Tahrim 4, 6, al Ma’aarij 4 dan al Ahzab 56. Khusus tentang Malaikat Jibril terdapat dalam Q.s.an Najm : 1-14 dan S.al Qadar.

Bagi umat Islam, malaikat bukan sosok mainan. Bukan mahluk yang “nyinyir” dan “cerewet”, ”berlagak sebagai mahluk baik”, “galak” dan “usil”, serta ”tukang meniup-niupkan wahyu dan maut”. Malaikat adalah sosok mulia yang tak dapat dipermainkan baik oleh ucapan, kalimat maupun tindakan hatta oleh seorang penyair sekalipun.

Di kalangan Muslim sendiri, hingga hari ini ada keyakinan bahwa penyair adalah penunjuk jalan sesat. Salah satu acuannya adalah
QS. Asy-Syu’ara:224-227. Dalam surat itu disebutkan: “Para penyair diikuti orang-orang sesat. Apakah engkau (Muhammad) tidak melihat, sesungguhnya mereka, berseliweran di lembah-lembah dan perkataan mereka, menyimpang dari kebenaran? Mereka mengucapkan apa-apa yang tak pernah dikerjakan. Kecuali para penyair yang beriman dan berbuat kebajikan, serta banyak mengingat Allah, dan bangkit melawan setelah dianiaya.”

Di Indonesia, pengertian sastra sudah lama mengalami perluasan arti.Sastra bukan hanya mencakup seputar tulisan yang bermakna seni saja, tetapi juga mencakup banyak hal berkaitan dengan realitas sosial, budaya, dan relegiusitas. Karena sastra menyangkut kehidupan manusia, kata Sastre, sastra tidak akan lepas dari ideologi yang menjadi kebiasaan sebuah komunitas tertentu (kebudayaan, religiusitas). Ia juga menyangkut nilai, ideologi, dan etika. Sampai di sini, jelaslah bahwa sebuah karya sastra bukan hanya menyangkut estetika. Estetika hanya unsur komunikasi dalam etika sastra.

Dalam taksonomi ilmu pengetahuan, logika berbicara soal benar-salah, estetika berbicara soal indah-tak indah, dan etika berbicara soal baik-buruk.

*) tulisan ini pernah dimuat di rubrik Sastra Milik Siswa Harian Radar Lampung, 12 Agustus 2007

Read Full Post »