Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Senandika’ Category

Akhirnya…

akhirnya aku harus menulis angin. desau yang selalu berkesiur di tiap waktu

di rumahku, yang selalu gigil dan beku, angin seperti mati

ya, mati. setelah si bungsu yang kuukir dengan jiwa ragaku

di petik dari dahan-Nya

akhirnya aku harus menulis angin. maut yang siap menjemput

kapan pun Dia mau. ah, aku jadi ingat kata-kata Endang Supriadi:

Tuhan selalu mempermainkan kita!

ya, akhirnya, aku pun harus main-main. mungkin

di taman ini permainan tak akan pernah selesai

dan kuharap tak akan pernah selesai…

Bandarlampung, 21 April 2007

Iklan

Read Full Post »