Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘aliran puisi’

Mengenal Puisi

Oleh Oyos Saroso H.N.

Perbedaan yang paling nyata antara puisi dan prosa adalah dalam hal kepadatan. Bahkan, banyak ahli sastra dan pengarang yang mengatakan bahwa perbedaan antara puisi dengan prosa pada dasarnya hanyalah pada derajat kepadatannya (konsentrasinya) saja. Bahasa puisi lebih padat dibandingkan prosa. Kepadatan dalam puisi sering disebut sebagai gedicht (Belanda) atau Ditchung (Jerman).

Kalau bahasa puisi bersifat memadatkan (kondensasi), maka bahasa prosa bersifat menguraikan (dispersi). Itulah sebabnya bentuk puisi umumnya lebih pendek dan padat ketimbang puisi. Puisi merupakan hasil ekspresif kreatif penyair mengolah bahasa, sementara prosa adalah hasil ekspresif-konstruktif pengarangnya.

Karena mementingkan unsur kepadatan, maka puisi lebih bersifat sugestif dan asosiatif. Kata-katanya harus benar-benar terpilih sehingga bisa menimbulkan sugesti dan asosiasi tertentu. Dalam sebuah puisi, selain adanya irama atau unsur bunyi, juga terdapat metafora. Unsur metafor dalam puisi sangat penting. Sebab, metaforlah yang memungkinkan sebuah puisi berbeda dengan kata-kata indah biasa. Metafor juga menjadi sarana bagi penyair untuk membuat sebuah puisi menjadi sugestif dan asosiatif.

Secara kasat mata, puisi memiliki beberapa unsur pembentuk.Antara lain adalah suara/bunyi, kata, frase, kesatuan makna (unity of meaning), gaya bahasa (metafora, personifikasi, metonimi, sinekdok, alegori, perbandingan, perumpaan,dll), citraan/imaji (gambaran-gambaran angan)

Aneka Macam Aliran Puisi
Aliran dalam sastra (puisi, cerpen, novel, drama) pada dasarnya adalah paham atau keyakinan yang dianut seorang pengarang dalam melakukan proses kreatifnya. Keyakinan atau aliran pengarang akan terpancar dalam seluruh ciptaanya, baik dalam bentuk, isi, maupun sikap hidupnya.

Dalam sejarah sastra dunia, hingga kini setidaknya ada tiga aliran besar, yaitu aliran klasik, aliran romantik, dan aliran realisme. Masing-masing aliran mencerminkan zamannya. Di setiap negara, era pertumbuhan dan perkembangan aliran itu berbeda-beda. Selain itu, aliran tersebut tidak selalu berkembang atau bergerak secara linear. Artinya, pada suatu masa bisa saja terjadi dua aliran sekaligus berkembang secara bersama-sama.

I. Aliran Klasik

Aliran klasik adalah sebuah aliran dalam karya sastra yang mendasarkan karyanya pada rasionalitas akal. Dalam sejarah sastra dunia, aliran klasik dimulai pada zaman Renaisansce (zaman pencerahan). Salah satu tokoh terpenting aliran ini adalah Rene Descartes, yang terkenal dengan adagiumnya: Corgito Ego Sum (aku berpikir maka aku ada).

Menurut aliran ini, yang terpenting orang harus mempunyai pikiran yang jernih dan budi pekerti yang tinggi. Menurut Descartes, pikiran yang jernih hanya bisa dihasilkan oleh batin yang jernih. Karena mendasarkan pada pikiran jernih dan batin bersih itulah, maka tak mengherankan jika penyair penganut aliran klasik (hampir) selalu memberikan nasihat kepada pembacanya.

Perhatian dua puisi karya penyair dari zaman yang berbeda ini.:

KELEDAI DAN KULIT SINGA

Karya Jean de la Fontaine (1621-1695)

Keledai yang ditutup kulit singa
gempar orang di mana-mana
meskipun binatang itu jinak
disangka orang ia galak

Tetapi ketika telinga
tanpa disengaja tampak tersembul
tahulah orang ia bukan singa
sehingga si Badar pun berani memukul-mukul.

Orang lain yang tidak membuktikan
keadaan sebenarnya
tercengang kagum menyaksikan
seorang petani berani menghajarnya.

Demikian sering kejadian
orang meributkan kebenaran
yang sebagian besar
hanya benar di luar

(Terjemahan Utuy Tatang Sontani dalam Puisi Dunia I, kumpulan M. Taslim Ali, Balai Pustaka, Jakarta, 1958).

PETANI DAN ULAR

Karya Aesopus (500 SM)

Ada seekor ular menggigit, mati
si anak petani. Pak tani teramat sedih
lari membawa kapak dan menanti
di muka lubang. Pabila si ular keluar
kapak dihalau
tapi yang hancur batu karang, bukan si ular.
Khawatir, kalau-kalau
dendam membalas, maka berkata
Pak Tani,”Apakah laku kita,
aku dengan kapak dan engkau dengan bisamu?
Baiklah kita berkawan.”
“Bagi kita,” ujar ular,”payah berbaik teman
Aku, jika terlihat karang hancur,
Engkau, bila teringat anak dikubur.”
Kata sahibul hikayat, apa yang telat terselit
sulit dilupa untuk tiada sakit

(Terjemahan Jan Prins dalam Bahasa Belanda)

(Bersambung)

Iklan

Read Full Post »