Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2008

Oyos Saroso H.N.

Tulangbawang

—————

Cassava farmers in Lampung — one of the poorest provinces in Indonesia — are reaping the benefits of bioethanol factories springing up in the area.

Bioethanol refineries, including PT Medco Energy, PT Acida Tama, PT Madusari Lampung Indah and PT Sungai Budi, have flourished in the area, lifting production capacity to between 180,000 liters and 60 million liters annually.

Thanks to their presence, the production of cassava has surged significantly. In June, the price of cassava at the farmer level reached Rp 500 (US$0.5 per kilogram), compared to between Rp 150 to Rp 200 per kilogram previously.

The only company obtaining its supplies of cassava from farmers earlier was PT Sungai Budi, the biggest tapioca flour mill in Lampung.

A farmer in Tulangbawang, Ferdi Gunsan, 45, is enthusiastic about the presence of the bioethanol factories in Lampung and is looking forward to growing cassava on his 50-hectare farm.

“Growing cassava now is more lucrative than coffee or oil palm. A number of oil palm farmers have replaced their crops with cassava now. Besides the available bioethanol factories, technology to increase our output is also available now,” Ferdi, referring to the joined stem seedling method, said.

The joined stem seedling technique includes attaching the lower stem of the regular cassava with the upper stem of the entres variety cassava, better known as the singkong karet.

Usually, the lower stem is selected from the stem of a plant which is 11 months old with a stem around 2 centimeters in diameter.

The lower stem is generally taken from the Kasetsart variety from Thailand, while the upper stem is the local variety, with a diameter of around 1 centimeter and 15 to 30 centimeters long. Farmers can yield 60 to 100 tons of cassava from a one-hectare plot by applying the method.

Farmers with limited capital usually work with bioethanol producers, such as in East Lampung, where Suparlan, 40, works with other farmers in collaboration with PT Madusari Lampung Indah (MLI).

MLI collaboration manager Susilo Sugiarto said in cooperation agreements farmers were only required to provide land, while MLI provided the working capital and guaranteed the market price.

“The working capital package consists of seedlings, compost, pesticides and dolomite lime worth Rp 5.5 million for each hectare of cassava farm. We are working together with around 1,400 farmers from 46 villages in East Lampung,” Sugiarto said.

With a production capacity of 50 million liters of ethanol annually, MLI is currently operating around 1,600 hectares of cassava farms. It aims to manage 4,000 hectares of cassava farms by extending the partnership system to farmers in East and South Lampung.

To meet supply needs, MLI needs at least 4,000 hectares of cassava farms yielding between 60 to 100 tons per hectare, Susilo said.

“The partnerships have only reached 1,600 hectares. The current contract price of cassava has been mutually agreed on at Rp 280 per kilogram. However, we will increase the price because it hovers between Rp 350 to Rp 400 per kilogram on the market now.”

Farmers are able to reap more than Rp 8 million even if the price is set at Rp 300 per kilogram, because harvests from joined stem seedlings yield 60 tons per hectare, a gross profit of Rp 18 million.

In Indonesia, investors generally use land which has been grown with cassava traditionally to meet supplies for their raw material.

While the main cassava farming area in Lampung spans an area of 3,000 hectares, other farms are spread throughout Southeast Sulawesi and Java, while farms cover under 1,000 hectares.

Nitti Soedigdo is the leader of the Makmur village cooperatives unit in Pugung Raharjo village in Sekampung Udik district, East Lampung. He said the presence of bioethanol factories in Lampung was expected to revive farmers’ revenues.

“Cassava farmers in Lampung have so far lived a miserable life because of the low price of the commodity due to monopoly practices,” he said.

Bioethanol factories will act as a cassava price buffer because they need the commodity in huge volumes to meet their supplies of raw material, he said.

“Farmers are also in a strong bargaining position because they have so many choices over where to sell their harvests.”

Lampung Governor Syamsurya Ryacudu said the province had been targeted to become one of the largest bioethanol producers over the next five years.

Source: The Jakarta Post, Wed, July 2, 2008

Iklan

Read Full Post »

Oyos Saroso H.N.

Tulangbawang/Lampung

Berdirinya sejumlah pabrik bioetanol di Lampung mulai menggairahkan para petani. Para petani di sentra singkong di Lampung seperti di Kabupaten Tulangbawang, Lampung Tengah, dan Lampung Timur, kini beramai-ramai menanam singkong.

Beberapa pabrik bioetanol yang sudah berdiri di Lampung antara lain PT Medco Energy, PT Acida Tama, PT Madusari Lampung Indah, dan PT Sungai Budi. Pabrik bioetanol itu memiliki kapasasitas produksi 180 ribu liter hingga 60 juta liter etanol per tahun.

Berdirinya pabrik beoetanol itu membuat harga singkong naik. Pada Juni 2008 harga singkong di tingkat petani Rp 500/kg. Sebelumnya, harga singkong hanya berkisar Rp 150-Rp 200/kg. Dulu yang membeli singkong petani hanya satu perusahaan, yaitu PT Sungai Budi, sebuah perusahaan tepung tapioka terbesar di Lampung saat ini.

Ferdi Gunsan, 45, salah seorang petani asal Tulangbawang, mengaku senang dengan adanya pabrik bioetanol di Lampung. Ferdi kini bergairah menanam lahannya seluas 50 hektare untuk ditanami singkong.

”Kini menanam singkong jauh lebih menguntungkan dibanding kopi atau kelapa sawit. Bahkan, saat ini sudah ada beberapa petani sawit yang mengganti kebunnya dengan tanaman singkong. Selain karena ada pabrik bioetanol, kini juga ada teknologi meningkatkan produksi tanaman singkong, yaitu dengan singkong sambung, ” kata Ferdi.

Singkong sambung adalah hasil teknik penyambungan antara singkong biasa dengan singkong karet. Batang bawah berasal dari singkong biasa varietas unggul, sementara batang bagian atasnya disambung dengan singkong karet. Biasanya batang bawah dipilih yang sudah berumur minimal 11 bulan, berdiameter sekitar 2 cm.

Batang bawah yang banyak digunakan jenis singkong Kasetsart dari Thailand. Sementara batang atas berupa pucuk singkong karet (entres), berdiameter sekitar 1 cm dan panjang 15—30 cm. Dengan teknik singkong sambung, petani bisa mendapatkan hasil 60 ton-100 ton/hektare.

Petani yang tidak punya modal lebih memilih menjalin kerja sama dengan perusahaan bioetanol. Suparlan, 40, petani asal Lampung Timur, misalnya, bersama para petani lain bekerja sama dengan PT Madusari Lampung Indah (MLI).

Susilo Sugiarto, Manajer Kemitraan PT Madu Lamoung Indah (PT MLI), mengatakan dalam kerja sama itu petani hanya menyediakan lahan, sementara PT MLI memasok modal dan menjamin pasar. ”Paket modal berupa bibit, kompos, dan kapur dolomit senilai Rp 5,5 juta/ha. Ada 1.400 petani dari 46 di Lampung Timur yang bekerja sama dengan kami,” kata Sugiarto.

Dengan kapasitas produksi 50 juta liter etanol per tahun, PT MLI saat ini sudah menggarap sekitar 1.600 hektare kebun singkong. PT MLI menargetkan bisa mengelola 4.000 hektare kebun singkong dengan pola kemitraan dengan petani di Lampung Timur dan Lampung Selatan.

Menurut Sugiarto, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku perlu 4.000 ha kebun singkong sambung yang produktivitasnya 60—100 ton/ha. Dalam kemitraan ini petani hanya menyediakan lahan, sementara PT MLI memasok modal dan menjamin pasar. Paket modal berupa bibit, kompos, pestisida, dan kapur dolomit, senilai Rp5,5 juta atau Rp6,5 juta setelah ditambah bunga.

”Kerjasama itu baru mencakup luasan 1.600 ha. Saat ini harga kontrak yang sudah disepakati Rp280/kg. Tapi harga ini akan kami tingkatkan karena harga singkong di pasaran sudah menembus Rp350—Rp400/kg,” kata Susilo.

Dengan kerja sama, jika harga singkong Rp300/kg saja, petani bisa untung Rp8 jutaan. Sebab, produksi singkong sambung minimal bisa 60 ton/ha sehingga hasil kotornya Rp18 juta.

Di Indonesia secara umum, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku para investor tengah memanfaatkan lahan yang selama ini digunakan sebagai areal budidaya singkong secara tradisional. Lokasi terbesar berada di provinsi Lampung. Lainnya tersebar di Jawa dan Sulawesi Tenggara. Areal lahan di Lampung lebih kurang mencapai 3.000 hektare, sementara di Pulau Jawa di bawah 1.000 hektare.

Niti Soedigdo, Ketua Koperasi Unit Desa Tani Makmur Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, mengatakan banyaknya pabrik bioetanol di Lampung akan mengembalikan kejayaan para petani. ”Selama ini para petani singkong di Lampung merana karena harga singkong sangat rendah akibatnya adanya monopoli,” kata dia.

Menurut Niti Soedigdo, berdirinya pabrik-pabrik etanol akan menjadi penyangga harga singkong karena pabrik-pabrik tersebut memerlukan bahan baku yang sangat besar. ”Petani pun memiliki posisi tawar yang kuat karena ada banyak pilihan tempat menjual hasil panennya,” kata Soedigdo.

Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu mengatakan Provinsi Lampung menargetkan lima tahun ke depan Lampung benar-benar menjadi lumbung bioetanol nasional. ”Program itu didukung dengan lahan yang masih sangat luas di Lampung dan kondisi tanah yang cocok untuk perkebunan singkong. Kami juga memberikan kemudahan para investor untuk menanamkan investasinya di bidang bioetanol di Lampung,” kata Syamsurya.

Read Full Post »