Oleh Oyos Saroso H.N.*
Kalau kita bandingkan kedua karya sastra klasik dunia itu, tampaklah bahwa para sastrawan aliran klasik dibimbing oleh akal. Dalam dua puisi itu, tidak ada jiwa yang meledak-ledak yang ditunjukkan penyairnya. Juga tidak ada gambaran protes sang penyair terhadap realitas. Sang penyair berbicara tenang. Pikiran penyair seolah-olah dikendalikan oleh logika yang ingin memberikan nasihat.
Dari dua puisi tersebut setidaknya kita tahu bahwa sastra klasik Yunani yang sudah tumbuh sejak tahun 500 sebelum masehi berpengaruh terhadap sastra klasik Prancis pada abad 17. Dalam sejarah sastra dunia, keterpengharuhan seorang sastrawan disebabkan adanya relasi sejarah antara negara para sastrawan. Sastrawan Prancis banyak terpengaruh oleh karya-karya klasik Yunani dan India karena sebelum Konstantinopel jatuh ke tangan Turki pada tahun 1453 yang menyebabkan hubungan Eropa dan Asia terputus, Yunani sudah menjalin hubungan selama berabad-abad dengan bangsa-bangsa Mesir, Persia, India, dan Tiongkok.
Mengapa para penyair aliran klasik suka memberikan nasihat? Salah satu sebabmua adalah karena mereka merasa bertanggung jawab kepada masyarakatnya. Pada zaman renaisance yang penuh gelora dan semangat baru untuk negara-negara modern menggenggam dunia, para pengarang klasik justru memiliki perasaan kolektif.
Sejarah sastra klasik di setiap negara tentu saja berbeda-beda. Perbedaan tersebut disebabkan oleh tingkat peradaban (melek baca dan modernisasi) setiap negara juga berbeda-beda. Kalau klasik Yunani sudah tumbuh jauh sebelum tahun masehi, di Prancis baru muncul pada abad ke-17.
Bagaimana dengan sastra klasik di Indonesia? Ajip Rosidi memberikan jawabannya: sastra yang berkembang setelah pertemuan dengan kebudayaan Eropa dan dunia dan mendapatkan pengaruh dari kebudayaan dunia disebut sebagai sastra modern, sedangkan periode sebelumnya disebut sebagai sastra klasik. Pengertian sastra klasik di Indonesia umumnya memang lebih menunjuk pada jenis karya sastra lama. Sastra modern di Indonesia sendiri sebenarnya usianya masih sangat muda, yaitu dengan berdirinya lembaga Balai Pustaaka, yang kemudian terkenal dengan zaman Balai Pustaka (1900-1933). Selanjutnya adalah zaman Pujangga Baru (1933-1942), angkatan 45 (1942-1950), zaman perkembangan (1950-1960-an), Angkatan 1966 (1960-an-1970-an), angkatan 1970-an, dan Angkatan 2000 (1980-an—2000-an).
Pengertian yang diajukan oleh Ajip Rosidi pada dasarnya mengandung banyak kelemahan. Salah satu sebabnya adalah karena Ajip hanya mendasarkan kategori sastra klasik sebagai lawan dari kategori sastra modern. Istilah klasik oleh Ajip Rosidi hanya didasarkan pada unsur kebahasaan saja. Padahal,. kalau dicermarti lebih dalam, sebenarnya banyak karya yang diciptakan pada zaman Pujangga Baru justru masuk dalam kategori karya klasik, yang lebih banyak mengedepankan unsur rasionalitas. Hal itu tampak, misalnya, dalam karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA), meskipun STA terkenal sebagai penyair yang mengangkat tema kematian.
II. Aliran Romantik
Aliran romantik adalah aliran dalam karya sastra yang mementingkan unsur perasaan, di samping unsur rasio. Aliran romantik merupakan bentuk penentangan terhadap aliran klasik. Menurut penganut aliran romantik, jiwa manusia tidak hanya terdiri atas pikiran, tetapi juga terdiri dari perasaan. Perasaanlah yang memberi garam bagi kehidupan. Sebab itu, untuk menentukan kebenaran suara hati atau perasaan juga harus didengarkan.
Yang dikenal sebagai Bapak Gerakan Romantik dunia adalah Jean Jaques Rousseau (1712-1778), filsuf Prancis kelahiran Swiss.
Di Indonesia, aliran ini tumbuh subur sejak zaman Balai Pustaka, Pujangga Baru, hingga Angkatan 45. Pertanyaanya, apakah setelah zaman Balai Pustaka hingga Angkatan 1945 Menariknya, sampai sekarang aliran romantik tetap mendominasi dunia kreatif perpuisian di Indonesia. Kalau kita cermati lebih seksama, maka aliran romantiklah yang menjadi “idola” banyak penyair generasi baru. Tentu saja, bukan sekadar romantisisme yang diungkapkan para penyair dalam karya-karyanya, tetapi romantisisme yang digarap berdasarkan pencerapan indrawi yang bersumber dari realitas sosial.
III. Aliran Realis
Aliran realis adalah paham dalam dunia sastra bahwa karya sastra harus mencerminkan realitas zaman. Karya sastra merupakan gambaran atau potret kehidupan manusia dan masyarakat. Para pengarang realis hendak menggambarkan keadaan sebagaimana adanya. Menurut para realis, sesuatu tidak boleh diperindah atau digambarkan lebih buruk daripada aslinya. Berbeda dengan para romantikus yang subjektif, para penganut aliran realis ingin lebih objektif dalam menulis karya sastra.
Aliran ini muncul sebagai kritik atas para pengarang yang hanya menulis berdasarkan dunia angannya belaka dan tidak peduli terhadap realitas sosial. Aliran ini menjadi trend dan mendapatkan sambutan yang luas ketika ideologi Marxis menyebar hingga sampai Indonesia. Pada tahun 1960-an (zaman Orde Lama) aliran ini mendapatkan tempat di hari para pengarang, sehingga muncullah dua kubu yang saling berhadapan. Kubu pertama adalah mereka yang memandang seni sebagai seni (kelompok Manifes Kebudayaan), sedangkan kubu lainnya adalah mereka yang memandang seni merupakan alat perjuangan untuk mengubah keadaan (kelompok Lembaga Kebudayaan Rakyat/LEKRA).
***
* Penyair, tinggal di Bandar Lampung
Daftar Bacaan:
Aoh Kartahadimadja, Alira Aliran Klasik, Romantik, dan Realisma, penerbit Pustaka Jaya, Jakarta, 1972
Ajip Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, penerbit: Binacipta Bandung, 1968.
Ensiklopedi Nasional Indonesia, edisi 14, 1990
Rizanur Gani, Pengajaran Sastra Indonesia: Respon dan Analisis, penerbit Dian Dinamika Press, Padang,