Oleh Oyos Saroso HN*
I
“Umak!” dengan setengah berontak pria gagah berusia 40-an tahun itu menangis.
“Gua bukan maling ayam!”
“Gua gubernur terpilih!”
Empat polisi dari kesatuan Brigade Mobil terus memegang kedua tangan pria gagah itu erat-erat. Dua polisi yang berada di belakangnya terus mendorong agar sasarannya cepat sampai di pesawat helikopter yang sudah beberapa saat menunggu di pelataran Markas Kepolisian Daerah (Polda) Lampung di Telukbetung.
Bagai tak mau buruannya lepas, para polisi itu terus mencengkeram keras tangan pria gagah yang dua minggu sebelumnya berstatus DPO (daftar pencarian orang) Mabes Polri itu. Si pria gagah terus diseret menuju pesawat helikopter. Sepatu si pria sempat lepas, sementara bajunya robek karena cengkeraman yang begitu kuat.
Teriakan itu bukan berasal dari mulut seorang anak remaja yang baru saja mencuri ayam dan dipaksa masuk sel tahanan. Adegan itu pun bukan drama televisi atau sebuah momen penyergapan bandar narkoba, sebagaimana sering kita saksikan tayangannya di acara televisi swasta.
Teriakan setengah mengiba itu meluncur dari mulut Alzier Dianis Thabranie, pria yang beberapa bulan sebelumnya berhasil menang dalam pemilihan gubernur Lampung, 30 Desember 2002.
Dengan kasar polisi terus mendorong dan menyeret Alzier menuju pesawat helikopter yang sejak setengah jam lalu baling-balingnya sudah berputar tanda siap tinggal landas. Beberapa kali badan Alzier sempat terhuyung. Mungkin karena kondisi badan mulai lemah lantaran semalam suntuk dicecar puluhan pertanyaan oleh tim pemeriksa dari Mabes Polri. Dengan gerak cepat, beberapa polisi mendorong tubuh Alzier, memaksanya segera masuk ke pesawat.
Brak! Pintu pesawat ditutup
Tepat pukul 17.15, pesawat pun tinggal landas dari halaman Mapolda, diiringi isak tangis dan tatapan kosong ratusan pendukung Alzier. Alzier duduk diapit tiga polisi. Tak seorang pun orang dekatnya, termasuk ajudan dan pengacaranya, boleh ikut.
Aneka makian keluar dari mulut para pendukung Alzier. Para pendukung setia itu pun pergi satu per satu, meninggalkan halaman markas Polda Lampung yang sore itu dijaga ketat puluhan polisi dengan senjata terkokang dan siap tembak.
Sabtu sore itu, 19 April 2003, menjadi saat kelabu bagi Alzier dan para pendukungnya. Semacam mimpi buruk yang tak disangka-sangka datangnya. Itulah puncak dari drama panjang tentang suksesi gubernur Lampung, setelah lebih dari sebulan polisi kehilangan jejak Alzier, sehingga terpaksa sang calon gubernur terpilih itu “dihadiahi” status buron oleh polisi.
“Tuh kan…kalian yang selama ini selalu menulis miring tentang Alzier bisa menangis begitu,” cetus Ariansyah, saat melihat Fadilasari, koresponden majalah Tempo di Lampung, menitikkan air mata.
“Teriakannya yang memanggil ibundanya itu lo yang membuat saya terenyuh,” Fadilasari memberikan alasan, ketika saya tanya kenapa dia menangis saat Alzier dibawa pakai pesawat helikopter Mabes Polri.
Hingga helikopter menghilang dari pandangan, puluhan pendukung Alzier masih tercenung. Ratusan pendukung setia Alzier seolah masih tak percaya bahwa orang yang selama ini dicintainya, sang gubernur baru yang akan segera dilantik, “si kuat” yang bisa menyelesaikan segala masalah, ternyata begitu rapuh di hadapan kokangan senjata. Bahkan, menangis dan meronta saat diringkus polisi.
“Benar-benar biadab!” umpat seorang pendukung.
“Maling ayam pun tak diperlakukan seperti itu!” timpal yang lain.
Sementara para pendukungnya terus diliputi kemasygulan, Alzier tepekur di dalam pesawat yang membawanya ke Mabes Polri di Jakarta. Badannya menggigil, Matanya nanar. Dalam keadaan bingung dan stres berat, ia masih ingat Tuhan. Dalam tatapan tak bersahabat dari para polisi, mulut Alzier terus komat-kamit melafazkan doa. Selain doa keselamatan, Alzier juga berdoa agar pesawat helikopter yang membawanya jatuh saja.
”Ya Allah, semoga Engkau jatuhkan pesawat helikopter ini dan biarlah saya meninggal setelah helikopter ini jatuh,” bisiknya.
Mungkin doa yang terlampau infantil untuk orang sekelas Alzier, calon gubernur yang acap disorot miring. Bukan lantaran cengeng, tapi memang sebenarnya Alzier takut naik pesawat terbang.
“Saya trauma karena pernah naik pesawat dan hampir menabrak pohon kelapa,” tutur Alzier, sebagaimana ditulis Nasir Tamara dalam buku Alzier, Fenomena Politik di Era Reformasi.
Sekitar pukul 18.30 pesawat helikopter sudah mendarat di halaman Mabes Polri. Dari layar televisi, saya saksikan wajah kuyu Alzier berusaha tetap tersenyum ramah kepada para wartawan yang mencegatnya. Dari layar Metro TV, saya menyaksikan wajah Alzier sangat letih.
Alzier langsung ditahan di ruang Reserse dan Kriminal (Reskrim), berdekatan dengan tempat penahanan Pemimpin Pondok Pesantren Ngruki Abu Bakar Baasyir. Setelah menjalani pemeriksaan secara maraton di Mabes Polri, kondisi kesehatan Gubernur terpilih Lampung Alzier Dianis Thabranie menurun dratis. Esok paginya Alzier dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati Jakarta karena menderita infeksi saluran kandung kemih, juga penyakit ginjal dan livernya kambuh. Alzier menempati kamar No. 8 lantai tiga gedung Catur Prasetya III RS Polri Jakarta itu, dengan pengawalan ekstra ketat dari aparat keamanan.
Di Bandar Lampung, selepas Magrib, para loyalis Alzier berkumpul di rumah Wakil Ketua DPRD, Moctar Hasan di Bandar Lampung. Konferensi pers pun digelar.
Abbas Hadi Sunyoto menyatakan tindakan polisi melampaui batas kewajaran. Maka, pihaknya akan menempuh langkah-langkah politik untuk menyikapi peristiwa tersebut. Di antaranya DPRD akan segera mengadakan sidang pleno untuk menyikapi perlakuan Polri tersebut. Selain itu, pihaknya akan mengadukan persoalan tersebut ke MPR dan International Parliament Organization (IPO).
Selain langkah politik, para pendukung Alzier juga akan menempuh langkah hukum. Di antaranya mengadukan masalah tersebut ke Mahkamah Internasional di Den Haag. Alasannya: tindakan Polri sudah melanggar hak asasi manusia.
“Kami tidak lapor ke Komnas HAM karena lembaga itu masih di bawah presiden,” kata Abbas.
Untuk memperkuat penanganan kasus hukum, tim penasihat hukum Alzier juga akan diganti dengan tim yang lebih kuat. Di antaranya dengan menggandeng pengacara kondang Todung Mulya Lubis. Sementara Henry Yosodiningrat, pengacara asal Lampung yang kini aktif di lembaga Gerakan Anti Narkotika (Granat), tetap dipertahankan. Henry mendapat tugas mendampingi Alzier selama menjalani pemeriksaan di Mabes Polri.
.
Entah kenapa sampai kini tak ada satu rencana itu yang terwujud. Paling banter mereka mencari dukungan ke sejumlah politisi di Jakarta. Maka, tak mengherankan jika kemudian dukungan untuk Alzier pun mengalir. Antara lain dari mantan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid.
Yang terus dilakukan para loyalis Alzier adalah menggalang opini publik bahwa gubernur terpilih itu segera dilantik. Belakangan saya mendengar kabar bahwa Andi Arief, tokoh Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) juga menjadi salah satu kelompok pemikirnya Alzier.Andi bertugas menyusun strategi kampanye dan membangun opini publik.
Ketika saya konfirmasi, Andi menolak disebut sebagai think tank-nya Alzier.
“Tapi saya dengar dari kawan-kawan bahwa kau inilah yang punya inisiatif membangun pos-pos komando dukungan untuk Alzier lo, Ndi,” ujar saya via telepon.
“Udah deh. Kalau soal itu jangan tanya aku karena aku tidak tahu menahu. Coba tanya ke Bang Sabirin Keonang,” ujarnya.
Sabirim Keonang adalah politisi dari Partai Amanat Nasional yang selama ini dikenal sangat loyal dengan Alzier. Namun, kata kepala litbang PAN Lampung, Hardi Hamzah, keterlibatan Sabirin dalam mendukung Alzier bukan kebijakan partai.
***
II
MENGAPA Alzier digelandang bagai penangkapan seorang mafia kelas kakap? Pertanyaan serupa inilah yang hingga kini masih bergelayut di benak sebagian besar pendukung Alzier.
Alasannya sederhana saja: Alzier, menurut mereka, bukan penjahat besar. Kalaupun bersalah, tak mungkin Alzier akan melakukan perlawanan. Apalagi, sebelumnya sudah ada perjanjian tak tertulis antara belasan anggota DPRD Lampung pendukung Alzier dengan Kapolda Lampung, Brigjen Sugiri.
Wajar kalau para pendukung setia Alzier tak bisa menyembunyikan kemasygulannya. Sebab, sebelumnya sudah ada perjanjian lisan antara mereka dengan Kapolri Jenderal Da’i Bachtiar agar Alzier tetap berada di Lampung. Kalau toh ditahan, biarlah ditahan di Lampung. Tidak dibawa ke Jakarta.
“Kami dibohongi dan dijebak,” kata Ariansyah, pengacara Alzier.
“Kami dilecehkan oleh Mabes Polri. Alzier itu kan gubernur terpilih. Mosok diperlakukan seperti itu,” kata S.Abbas Hadisunyoto, ketua DPRD Lampung yang dikenal sangat loyal terhadap Alzier.
Menurut Abbas, kalau bukan lantaran ada janji dan jaminan lisan dari Kapolri, sangat kecil kemungkinannya Alzier akan mendatangi Markas Polda untuk diperiksa. Artinya, Alzier akan terus menjadi buron.
Untuk memperkuat janji itu, saat mengantar Alzier untuk diperiksa di Polda, Jumat pagi, 17 anggota DPRD, termasuk Abbas, telah pasang badan. Mereka menjadi jaminan Alzier tidak akan lari.
Kesepakatan awal dicapai. Pemeriksaan terhadap Alzier pun dilakukan secara maraton sejak Jumat pagi, 18 April 2003, hingga Sabtu dini hari. Alzier diperiksa oleh tim Mabes Polri yang beranggotakan 12 orang dan dipimpin oleh Direktur I Bidang Keamanan dan Transnasional Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri, Brigjen Polisi Aryanto Sutadi.
Dicecar dengan 35 pertanyaan seputar 6 tindak pidana yang disangkakan kepadanya, Alzier kurang diberi waktu istirahat. Waktu istirahat hanya saat makan dan buang hajat. Di luar ruang pemeriksaan, ratusan pendukung Alzier tetap setia menunggu. Wajah mereka tegang.
Setelah menjalani pemeriksaan di aula Polda sekitar 16 jam, Sabtu sekitar pukul 02.00 Alzier dipindahkan ke ruang Kapolda. Di situ polisi memberikan surat perintah penahanan. Namun, pihak Alzier dan anggota DPRD meminta penangguhan penahanan. Permintaan ditolak.
Sepuluh menit kemudian, Alzier kembali ke ruang pemeriksaan. Di sana tim penasihat hukum Alzier mencoba bernegosiasi lagi untuk menangguhkan penahanan terhadap Alzier. Lagi-lagi permintaan itu ditolak. Selanjutnya pemeriksaan dilanjutkan di ruang direktur Reserse dan Kriminal.
Sementara pemeriksaan sedang berlangsung, Sabtu pagi, sekitar 3.000 pendukung Alzier menggelar aksi damai di Lapangan Korpri, depan kantor DPRD Lampung. Seperti biasa, para pengunjuk rasa menuntut agar Alzier segera dilantik sebagai gubernur. Dalam yel-yelnya, para pengunjuk rasa juga menuntut agar Presiden Megawati dan Wakil Presiden Hamzah Haz turun dari jabatannya karena dinilai kurang mampu memimpin Indonesia. Di antara mereka juga ada yang mengeluarkan ancaman akan melakukan pemblokiran Pelabuhan Bakauheni.
Sabtu sore sekitar pukul 16.30, seorang penyidik datang dan menyuruh pemeriksaan dihentikan. Alasannya, tempat pemeriksaan akan dipindahkan dari Dinas Penerangan di lantai dua ke sebuah ruang di lantai satu.
“Sampai di tangga ternyata kami sudah dijemput oleh pasukan Gegana dengan senjata terkokang,” kata Ariansyah.
Beberapa anggota tim pengacara Alzier berteriak-teriak dan menghalang-halangi petugas yang akan menarik Alzier. Setelah dilakukan negosiasi, Alzier dan pengacaranya dibawa ke lantai dua lagi. Rupanya itu hanya taktik polisi untuk mengulur waktu.
Tim pengacara Alzier dan sejumlah anggota DPRD Lampung sibuk mencari-cari Brigadir Jenderal Sugiri untuk menagih janji bahwa Alzier tidak dibawa ke Jakarta.
“Janjinya kan tak akan dibawa ke Jakarta!” teriak seorang pendukung Alzier.
Suasana makin tegang. Puluhan anggota Brimob terus berjaga dengan senjata terkokang.
Direktur Reserse dan Kriminal Polda Lampung, Komisaris Besar Polisi Made Suharya, kemudian menemui Alzier. Suharya mencium pipi Alzier seraya berbisik. “Maafkan saya, Bang. Saya hanya menjalankan tugas,” ujarnya.
Puluhan aparat kemudian menjemput Alzier ke lantai atas. Tim pengacara, sejumlah anggota DPRD Lampung, dan sejumlah pendukung Alzier berusaha menghalang-halangi. Para pendukung Alzier diusir aparat. Mereka tetap nekat meskipun polisi memukul, mendorong, bahkan menendang. Abbas Hadisunyoto, loyalis Alzier yang juga ketua DPRD Lampung, benjol kepalanya kerena kena popor senapan.
Dengan gerak cepat, sejumlah petugas mengambil paksa Alzier dan melarikannya ke helikopter yang sudah menunggu di halaman Markas Polda Lampung. Sepatu Alzier terlepas, sementara bajunya robek.Alzier menjerit-jerit minta tolong dan memanggil-manggil ibunya.
Minggu pagi, 20 April 2003, drama penjemputan paksa Alzier menjadi berita utama semua media cetak di Lampung. Bahkan, Harian Pikiran Rakyat di Bandung menjadikan proses penangkapan Alzier sebagai bahan tajuknya. Dalam sekejap, kisah Alzier menjadi buah bibir di Bandar Lampung. Tanggapan pro-kontra terus bergulir, baik di media massa, forum-forum diskusi, atau “acara ngerumpi” ibu-ibu rumah tangga.
Mereka yang setuju Alzier ditahan beralasan, sudah sewajarnya pelaku tindak kriminal diperlakukan kasar. Apalagi, setelah dua kali dipanggil polisi untuk diperiksa, Alzier tak pernah datang sehingga akhirnya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Bahkan, selama buron, Alzier masih sempat menikahi seorang gadis yang selama ini menjadi sekretarisnya di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Lampung.
Sementara mereka yang tidak setuju cara Polri melakukan penangkapan beralasan bahwa bagaimanapun Alzier adalah gubernur Lampung yang dipilih secara demokratis oleh wakil-wakil rakyat..
Menurut pengamat hukum pidana dari Univesitas Lampung, Wahyu Sasongko, prosedur penangkapan Alzier sudah benar. “Ketika dua kali dipanggil tidak datang, kemudian dicari ke-Lampung tidak ketemu, maka proses hukum selanjutnya adalah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) alias buron. Nah, ketika Alzier dibawa ke Mabes Polri, itu tidak salah karena kasus ini sudah menjadi tanggung jawab Mabes,” kata Wahyu.
Menurut Wahyu, sangat wajar berbagai kasus Alzier mencuat setelah dia terpilih sebagai gubernur Lampung. “Itulah risiko politik menjadi pemimpin publik. Setiap orang yang akan menjadi pemimpin publik seketika riwayat hidupnya pasti akan dicuatkan,” ujarnya.
“Seharusnya penangkapan dilakukan secara manusiwi. Cara penangkapan seperti itu berarti melecehkan rakyat Lampung karena bagaimanapun Alzier adalah gubernur Lampung!” tegas Abbas Hadisunyoto.
Kapolri Jenderal Da’i Bachtiar menolak pihaknya disebut tak manusiawi saat polisi menjemput paksa Alzier. Menurut Da’i, yang dilakukan anak buahnya sudah benar dan sesuai dengan prosedur.
“Siapa bilang dia gubernur? Dia belum dilantik kok. Kami ini sedang memeriksa seorang bernama Alzier, bukan gubernur,” tukas Da’i.
Da’i Bachtiar pun punya alasan kenapa Alzier “diambil paksa” memakai helikopter untuk diperiksa di Mabes Polri. Menurut Da’i, jika pemeriksaan tetap diteruskan di Lampung, akan banyak mengalami gangguan. “Kemarin saja akan dibawa ke Jakarta banyak pendukungnya yang menghalang-halangi,” kata Kapolri kepada wartawan di Jakarta.
Ditinggalkan pemimpinnya, bukan berarti tekanan dari para pendukung Alzier melemah. Tiga hari setelah Alzier diangkut ke Mabes Polri, para pendukung Alzier membentuk Komite Bersama untuk Pelantikan Gubernur. Anggotanya antara lain berasal dari elemen: Perguruan Persilatan Pandawa Lima, Pendekar Banten Singa Manda, Konsorsium Pengangguran Lampung (lembaga ini dibentuk Andi Arief), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Lampung, Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat, Paguyuban Miskin Kota, dan Himpunan Mahasiswa Semendo. Enam elemen tersebut mengklaim memiliki ribuan anggota. Andi Arief menjadi salah satu motor penggerak gerakan ini.
Dalam jumpa pers di Sekretariat PWI Lampung, 22 April 2003, perwakilan enam elemen itu juga mengaku segera membentuk Posko Kedaulatan Rakyat di Lapangan Enggal, Bandar Lampung.
“Posko itu sebagai pusat kampanye terhadap penolakan kebijakan pusat terhadap daerah. Posko itu juga sebagai pusat kegiatan untuk mendukung Alzier sebagai gubernur terpilih Lampung. “Sebab, kami prihatin kepemimpinan di Lampung sudah lama kosong ” kata Nurul Hidayat, ketua Paguyuban Miskin Kota Lampung
***
III
MINGGU petang, 29 Desember 2002, saya menghadiri rapat di kantor Lembaga Bantuan Hukum LBH) Lampung di Jalan Gajahmada Bandar Lampung. Agendanya: memantapkan rencana pemantauan suksesi kepala daerah di Lampung oleh Jaringan Pemantau Suksesi Kepala Daerah (JPSKD).
Sebagai ketua AJI Lampung, saya datang mewakili Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung, yang bersama Lampung Parliament Watch (LPW), LBH, dan Komite Anti Korupsi (Koak) menjadi pencetus lahirnya JPSKD.
Itu adalah rapat JPSKD yang keenam kalinya. Dalam rapat-rapat sebelumnya, kami melakukan identifikasi masalah suksesi gubernur Lampung, membahas soal peluang-peluang kecurangan yang dilakukan oleh para anggota tim sukses calon gubernur, membentuk tim advokasi, dan menyiapkan langkah-langkah pengamanan jika salah satu anggota pemantau mengalami kekerasan. Saya dan kawan-kawan pemantau lainnya juga dibekali pengetahuan tentang berbagai aturan pemilihan kepala daerah dan indikator-indikator pelanggaran.
Jumlah pemantau dari JPSKD tak lebih dari 30 orang. Mereka adalah para jurnalis yang tergabung di AJI, aktivis Koak, aktivis LBH, dan aktivis LPW. .
Armen Yasir, pakar hukum tata negara dari Universitas Lampung yang juga aktivis LPW, memimpin rapat. Armen menekankan agar saat berada di tempat pemilihan gubernur di Gedung DPRD Lampung kami tidak bergerombol.
“Kita harus menyebar. Ada yang menjaga sekitar toilet, karena di sana kemungkinan besar transaksi suara akan dilakukan; ada yang terus berada di luar untuk melihat situasi; dan jangan lupa berjaga-jaga di pintu masuk,” kata Armen.
Saya, yang kebetulan jurnalis, boleh berada di mana saja. Alasannya, kata Armen, toh orang sudah banyak yang tahu bahwa saya jurnalis sehingga tidak perlu menyamar segala.
Menjadi jurnalis yang sekaligus ketua AJI, banyak tidak enaknya. Selama suksesi gubernur saya banyak “kehilangan teman baik”. Beberapa teman wartawan yang dulu sangat akrab, menjelang pemilihan gubernur mulai menjaga jarak. Saya menerima risiko kemanusiaan itu karena organisasi profesi yang saya pimpin tak mungkin berkompromi untuk mendukung salah satu kandidat gubernur. Sementara sebagian besar teman lama saya sudah menjadi anggota tim sukses gubernur. Yang terbanyak adalah menjadi tim suksesnya Alzier.
Pengalaman tak enak terjadi kritik saya selaku ketua AJI terhadap para wartawan yang menjadi tim sukses gubernur dimuat Lampung Post, beberapa hari menjelang pemilihan gubernur digelar. Dalam berita yang ditulis Lampung Post, saya menyangsikan para wartawan bisa netral dalam membuat ketika mereka menjadi tim sukses gubernur.
Ilham Jamhari, koresponden Media Indonesia, menegur saya saat bertemu di sebuah warung internet. Dia menanyakan apa maksud saya melontarkan kritik seperti itu sembari mengaku bahwa dia tidak menjadi anggota tim sukses siapa pun.
“Tidak ada untungnya kok menjadi tim sukses!” kata Ilham.
Saya tidak mau berdebat. Tapi, saya sempat menjelaskan kepada Ilham bahwa pernyataan saya tidak ditujukan kepadanya, tetapi kepada semua wartawan di Lampung yang sudah menjadi tim sukses atau public relation calon gubernur. Belakangan, setelah buku hasil pemantauan suksesi gubernur diterbitkan JPSKD dan saya menyebut nama Ilham dalam deskripsi tulisan, Ilham mencak-mencak via telepon. Dia mengancam saya. Tapi saya balik menantang karena yang saya tulis faktual dan banyak saksinya. Teman-teman di PWI bahkan banyak yang mendukung saya.
***
IV
SENIN, 30 Desember 2002. Bau tanah basah meruap dari jalanan yang belum tersentuh aspal. Pagi itu, gerimis jatuh di Kota Bandar Lampung. Gerimis agak kerap, meskipun tak lama.
Membonceng Vespa tua milik Firman Seponada, sekretaris AJI, pagi itu saya menuju Gedung DPRD Lampung di Jalan Robert Wolter Monginsidi Bandar Lampung. Jaraknya cukup dekat, hanya 1,5 kilometer dari rumah saya.
Firman memilih memarkir Vespa di sebuah kantor asuransi, berjarak dua ratus meter dari kantor DPRD.
“Kalau ada kerusuhan motor saya bisa jadi korban,” Firman memberikan alasan.
Para anggota JPSKD lainnya, memilih memarkir kendaraanya di Hotel Sheraton, sekitar 1,5 km dari kantor DPRD. Dari Sheraton, mereka berjalan kaki menuju lokasi pemantauan. Dari kejauhan saya saksikan bagaimana langkah pemantau yang rata-rata berusia di atas 40 tahun itu seperti barisan pegawai negeri sipil yang sedang ikut lomba gerak jalan.
“Wah, capek juga,” ujar Nanang Trenggono, aktivis LPW yang juga dosen di Fisip Universitas Lampung yang kini kandidat doktor di Unpad.
“Ya,lumayan, jadi keluar keringat,” timpal Jauhari Zailani, pria berusia 50-an tahun yang saat saat ini mengajar di Universitas Bandar Lampung (UBL).
Waktu menunjukkan pukul 08.00 ketika kami tiba di sekitar kantor DPRD. Gerimis telah benar-benar reda. Matahari mulai garang menyengat. Kami melihat-lihat suasana di luar gedung DPRD. Ribuan massa sudah menyemut di depan gerbang kantor DPRD, persis di pertigaan menuju pintu masuk kantor DPRD. Mereka membuat panggung dan menggelar orasi. Intinya, mereka menuntut agar para wakil rakyat mendengar aspirasi rakyat Lampung.
Di beberapa pinggir jalan, aneka spanduk terpampang. Umumnya berisi imbauan: “Money Politik=Membohongi Rakyat”, “Jangan pilih calon Gubernur PKI”, “Hidup Putra Daerah!”
Ratusan polisi, baik berpakaian dinas maupun berpakaian preman, tampak sibuk. Mereka mencegat setiap tamu yang akan memasuki pintu gerbang. Yang tidak membawa surat undangan, jangan harap bisa masuk. Bahkan, Connie Sema, koresponden RCTI, saya lihat gagal masuk ke dalam gedung DPRD karena tak memiliki surat undangan.
Saya ikut antre bersama beberapa jurnalis, aktivis LSM, dan mahasiswa. Polisi sibuk memeriksa tas dan barang bawaan undangan. Tampak pula Malhani Manan, calon wakil gubernur, berada dalam antrean, hanya satu meter di depan saya. Pemeriksaan dengan alat detektor dilakukan tiga kali: di bawah tangga gedung, di depan pintu lantai dua, dan di depan pintu lantai tiga.
“Yang pakai tas besar layak dicurigai membawa bom!” gurau seorang undangan sambil menerima kotak berisi makanan kecil dan air mineral.
Saya tersenyum kecut. Saya tahu, yang dimaksud si undangan itu adalah saya, karena di sekitar situ hanya saya yang membawa tas ransel yang saya gendong di punggung.
Ruang sidang DPRD Lampung hari itu terasa sesak meskipun acara belum dimulai. Kursi di ruang utama maupun di sayap kanan-kiri balkon semuanya terisi penuh. Unsur pemimpin DPRD sudah siap di kursi terdepan, menghadap para anggota DPRD dan para undangan. Lima pasangan gubernur-wakil gubernur duduk di sisi kanan-depan. Mereka duduk berderet seperti layaknya calon kepala desa duduk menanti para pemilihnya memberikan suara.
Pagi itu, enam pasangan akan bertarung memperebutkan kursi gubernur dan wakil gubernur. Mereka adalah pasangan Oemarsono-Syamsurya Ryacudu, Alzier Dianis Thabranie-Ansyori Yunus, Sjahroeddim ZP-Malhani Manan, Namoeri Anom-Abdul Azib Zanim, Herwan Achmad-Mawardi Harirama, dan Djajuli Isa-Mat Alamin Kraying.
Mereka lolos menjadi calon gubernur dan wakil gubernur setelah dicalonkan fraksi-fraksi di DPRD Lampung. Oemarsono-Syamsurya diusung Fraksi Kesatuan Kebangsaan (FKK), Alzier-Ansyori diajukan Fraksi PDIP Perjuangan, Sjachroedin-Malhani dicalonkan Fraksi Persatuan Pembangunan, Namoeri-Azib Zanim diusulkan Fraksi Amanat Bintang Keadilan, Herwan-Mawardi dicalonkan Fraksi Parkai Kebangkitan Bangsa, sementara Djajuli-Kraying didukung oleh Fraksi Partai Golongan Karya.
Alzier Dianis Thabranie saya lihat paling terakhir datang dan duduk kursinya. Alzier mengenakan jas hitam dipadu dasi merah berhias motif hitam. Peci hitam menutup kepalanya.
Tepat pukul 09.00 ketua DPRD Abbas Hadisunyoto mulai membuka acara. Pemilihan dibagi menjadi tiga putaran. Suasana mulai menghangat ketika memasuki acara pemungutan suara. Makin memanas ketika acara penghitungan suara dimulai.
Tepuk tangan susul-menyusul. Selain para calon gubernur, ketegangan tampak di wajah-wajah para anggota tim sukses gubernur. Pada putaran pertama, paasangan Oemarsono-Syamsurya unggul dengan 29 suara, disusul Alzier-Ansyori dengan 23 suara, Sjahroedin-Malhani 12 suara, Namuri-Zanim 5 suara, dan Herwan-Mawardi 3 suara. Pasangan Djajuli Isa-Mat Alamin Kraying gugur karena hanya meraih 1 suara. Putaran kedua diikuti
Memasuki putaran kedua Oemarsono masih unggul dengan 30 suara, suara Alzier tetap, suara Sjahroedin bertambah satu menjadi 13, Herwan menambah dua suara, sementara Namuri hanya memperoleh 2 suara. Pada saat penghitungan suara putaran kedua tiba-tiba Alzier berdiri. Dia langsung memeluk erat Sjahroedin ZP, rival yang juga adik iparnya.
Saya tak tahu bagaimana perasaan Sjahroedin ketika itu. Yang pasti, ketika mereka berpelukan tiba-tiba ruang menjadi mau meledak karena gemuruh sorak-sorai dan tepuk tangan. Banyak undangan yang berteriak histeris.
“Hidup Alzier!”
“Hidup Bang Udin!”
“Hidup putra daerah!
Banyak orang berspekulasi bahwa rangkulan Alzier merupakan syarat bahwa dia memohon maaf kepada adik iparnya dan minta agar suara pendukung Sjahroedin diberikan kepada Alzier untuk memenangkan pertarungan pada putaran ketiga.
Sjachroedin adalah adik ipar Alzier karena Alzier karena menikahi kakak Sjachroedin bernama Syafariah Widianti atau akrab dipanggil Atu Ayik. Atu Ayik sendiri usianya jauh di atas Alzier. Dalam perhelatan suksesi gubernur keduanya saling berhadapan dan melakukan “perang dingin”. “Perang” keduanya makin memuncak ketika Alzier, tanpa sepengetahuan Ayik, Alzier menikah lagi dengan Ayin—seorang cukong kaya raya yang masih menjadi saudara dekat Sjamsul Nursalim. Ayin pula yang disebut-sebut sebagai penyandang dana bagi Alzier.
Memasuki putaran ketika, pertarungan makin seru. Itulah “pertarungan hidup mati” Alzier-Oemarsono. Sebab, selama ini Alzier dikenal sangat kritis dengan kebijakan-kebijakan Oemarsono. Oemarsono, gubernur Lampung periode 1997-2002, dianggap sebagian masyarakat Lampung sebagai bukan putra daerah sehingga tidak cocok berkuasa di Lampung pada zaman reformasi. Demo besar-besaran menolak bekas Bupati Wonogiri, Jawa Tengah, sebagai gubernur Lampung sering dilakukan kelompok massa pada awal-awal reformasi 1998.
Suasana tegang mewarnai pemungutan dan penghitungan suara putaran ketiga. Setiap anggota DPRD yang tidak pro-Alzier maju untuk mengambil kertas suara, olok-olok dari balkon sebelah kiri keras terdengar.
Ketika Sahzan Safri, anggota Fraksi PDIP yang berseberangan dengan Alzier, mengambil kartu suara, teriakan kembali terdengar dari samping saya, “Sahzan pengkhianat! Gusur Sahzan!”
Saya tahu, mereka yang berteriak-teriak itu adalah pendukung setia Alzier. Beberapa di antaranya saya kenal dekat karena pernah sama-sama bekerja satu atap di Lampung Post.
Olok-olok “Oe…Oe …”yang diucapkan menyerupai suara kerbau kerap juga saya dengar. Oe adalah panggilan akrab untuk Oemarsono.
“Oemarsono, sudahlah pulang saja ke Wonogiri!” teriak seseorang yang duduk di samping kiri saya. Saya tahu, yang teriak teman saya juga, yang kini aktif di PWI Lampung. Ahmad Rio Teguh, ketua PWI Lampung, yang duduk di sebelah kiri saya, juga ikut meneriaki Oemarsono.
Saya lihat Oemarsono terus menunduk, lesu. Pecinya tampak miring. Sementara mulutnya kelihatan komat-kamit. Mungkin sedang berdoa. Olok-olok yang ditujukan kepada Oemarsono semakin sering terdengar. Terlebih ketika perolehan suara Oemarsono dan Alzier saling susul. .
Massa-undangan berteriak histeris ketika sampai pada penghitungan suara terakhir. Suara terakhir menjadi milik Alzier Dianis Thabrani sehingga pada putaran ketiga dia meraih 39 suara. Ia meninggalkan jauh suara Oemarsono yang hanya 33 suara. Oemarsono langsung lemas. Beberapa ajudan segera memapahnya dan melarikannya ke kediamannya di Natar, Lampung Selatan. Sementara Alzier langsung dikawal aparat keamanan dan para pendukungnya.
***
V
SENIN malam, 30 Desember 2002. Syukuran digelar di rumah Alzier yang megah di Kelurahan Segalamider, Tanjungkarang Barat, Bandarlampung. Saya hanya menyaksikan kemeriahan itu dari Metro TV yang menyiarkan acara syukuran. Firman Seponada, yang kebetulan mengantar koleganya ke rumah Alzier, mengungkapkan sudah banyak orang terkenal di Lampung yang sowan kepada Alzier untuk meminta jabatan.
Namun, lagi-lagi, seperti kata penyair Rendra, nasib baik dan nasib buruk selalu bergandengan tangan. Kemenangan Alzier pun hanya sesaat dirayakan para pendukungnya lantaran sehari kemudian santer isu bahwa pemilihan gubernur bermasalah. Pokok masalahnya adalah S. Abbas Hadisunyoto selaku ketua DPRD sekaligus pemimpin sidang paripurna pemilihan gubernur tidak membacakan seluruh surat yang masuk sebelum acara pemilihan dimulai.
Padahal, sehari sebelum acara pemilihan datang surat dari Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno yang ditunjukan kepada DPRD Lampung dan Gubernur Lampung tentang permintaan klarifikasi terhadap Alzier Dianis Thabranie. Abbas tak menggubris permintaan Mendagri dengan alasan bila surat itu dibacakan akan mengacaukan suasana.
“Apa saya harus membakar Lampung? Keadaan sudah memanas. Kalau surat itu dibacakan dan pemilihan ditunda saya khawatir akan terjadi kerusuhan massa karena mereka tidak puas,” Abbas memberikan alasan.
Lagi pula, kata Abbas, surat dari Mendagri hanya bersifat imbauan sehingga bisa diabaikan. Abbas menunjukan kata-kata “seyogianya” sebagai alasan bahwa surat itu sekadar imbauan dan tak perlu digubris.
Begitulah, drama suksesi di Lampung berlangsung seru. Bahkan belakangan makin seru ketika Alzier Dianis Thabranie dilaporkan oleh bekas rekan bisnisnya dalam kasus penipuan beberapa tahun lalu. Kasus Alzier yang menyangkut pupuk milik PT Pusri juga diungkit-ungkit lagi. Mabes Polri terpaksa menurunkan tim investigasi ke Lampung. Alzier kabarnya sudah beberapa kali dipanggil untuk menjalani pemeriksaan di Mabes Polri. Namun, sampai minggu ketiga bulan Februari di belum memenuhi panggilan itu dengan alasan sakit tipus.
Hingga 25 Januari 2003, saat seharusnya gubernur terpilih dilantik, Presiden Megawati Sukarnoputri tak juga menerbitkan SK pengangkatan Alzier Dianis Thabranie dan Ansory Yunus sebagai gubernur dan wakil gubernur. Mega justru menunjuk Mendagri Heri Sabrono sebagai carateker gubernur Lampung. Sementara Tursandi Alwi, Kepala Litbang Depdagri yang berasal dari Krui, Lampung Barat, ditunjuk sebagai pelaksanaan tugas (Plt) gubernur.
Abbas dan rekan-rekannya terus berjuang agar Peresiden penerbitan SK pengangkatan buat Alzier. Berita media massa, terutama Lampung Post dan Radar Lampung condong mendukung Alzier. Beberapa berita saya lihat menggiring agar Alzier dilantik dengan pembenar berupa pendapat para pakar.
***
VII
PENGHUJUNG Januari 2001. Matahari sudah beranjak naik ketika ratusan massa pendukung Dasuki Kholil, calon Bupati Lampung Selatan, mulai membakar ban bekas di sekitar Gedung DPRD Lampung Selatan di Kota Kalianda.
Panasnya sinar matahari siang itu tak sepanas suasana di dalam Gedung DPRD Lampung Selatan. Hari itu Dasuki Kholil maju sebagai calon Bupati Lampung Selatan berpasangan dengan Munatsir Amin. Selain Dasuki—Munatsir, ada tiga pasangan lain duduk di deretan kursi pasangan bupati-calon bupati. Mereka adalah pasangan Alzier Dianis Thabranie—S. Hadi Pratiknyo, Zukifli Anwar—Muchtar Husin, dan Indra Bangsawan—Rukis Pribadi. Namun, di antara keempat pasangan itu, oleh sebagian masyarakat Lampung Selatan hanya Dasuki Kholil yang layak disebut sebagai putra daerah. Sebab, selain lahir dan besar di Padangcermin, Lampung Selatan, selama ini Dasuki juga berkiprah di Lampung Selatan.
Meski berpendingin udara, ruang sidang paripurna DPRD Lampung Selatan itu terasa panas. Asap rokok mengepul, meski ada larangan merokok di dalam ruang. Suasana makin panas ketika perolehan suara susul-menyusul antara pasangan Alzier—Pratiknyo dengan pasangan Zulkifli Anwar—Muchtar Husin. Beberapa kali perolehan suara dua pasangan itu sama. Tepuk tangan bergema silih berganti.
Selain undangan dari kalangan pejabat pemerintah daerah, sebagian besar orang yang memadati gedung DPRD Lampung Selatan adalah massa pendukung setia Dasuki Kholil. Maklum saja, Dasuki adalah orang asli Kalianda yang diharapkan masyarakat setempat menduduki kursi bupati. Dasuki dianggap sebagai putra daerah Lampung Selatan yang pantas menjadi bupati mengggantikan Amreyza.
Penghitungan suara di dalam gedung masih berlangsung ketika tiba-tiba seorang laki-laki berusia 20-an berlari keluar dari gedung. “Pak Dasuki kalah! Pak Dasuki kalah!”
Ratusan orang yang sejak pagi berada di luar gedung terkesiap. Teriakan pemuda itu seolah menjadi sihir dan menggerakkan ratusan tangan pendukung Dasuki Kholil untuk merangsek gedung DPRD. Hanya dalam hitungan detik, tanpa ada yang mengomando, ban-ban bekas makin banyak yang dibakar. Asap hitam membubung menyundul langit.
“Ini rekayasa! Ini rekayasa!” terdengar lagi teriakan dari depan pintu masuk gedung.
Massa makin kalap ketika hasil akhir pemilihan dimenangkan pasangan Alzier Dianis Thabranie—S. Hadi Pratiknyo dengan perolehan 21 suara dari 45 suara yang diperebutkan. Pasangan Dasuki Kholil—Munatsir Amin hanya meraup 4 suara; pasangan Zulkifli Anwar—Muchtar Husin dengan 18 suara, sementara pasagan jago Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Indra Bangsawan—Rukis Pribadi, tidak memperoleh satu suara pun.
Bersamaan dengan selesainya pembacaan kertas suara terakhir, tiba-tiba beberapa kursi melayang ke tengah-tengah arena pemilihan. Massa yang sejak semula hanya membakar ban bekas di luar gedung, mulai merangsek ke dalam. Mereka menghajar kaca gedung hingga hancur berkeping. Puluhan batu kali sebesar kepalan tangan orang dewasa melayang ke atap gedung.
“Dor! Dor! Dor” peluru karet lepas dari moncong senapan polisi.
Para undangan lari lintang pukang untuk menyelamatkan diri masing-masing. Ratusan polisi terus menembakkan peluru karet ke udara. Batu dan kursi terus beterbangan di ruang sidang. Haryo Dandang, pria sepuh yang juga ketua DPRD Lampung Selatan, berlindung di bawah meja. Para anggota tim sukses bupati menyelamatkan jagonya masing-masing lewat pintu samping.
Massa terus mengamuk. Aparat keamanan tak kuasa menahan amuk massa. Massa tak menggubris beberapa kali tembakan peringatan polisi. Tiga orang terkena tembakan peluru karet sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Lima orang lainnya juga terluka karena kena lemparan batu dan benda keras lainnya.
Massa dapat didesak keluar setelah petugas melepas gas air mata. Akhirnya ruang sidang dan kompleks kantor DPRD II Lampung Selatan dikuasai aparat keamanan. Meski begitu, massa tetap beringas. Mereka lari keluar gedung dan terus melakukan perusakan.
Mendapatkan momen bagus, Maman Sudiaman, koresponden Republika, ingin mengabadikan peristiwa tersebut. Kamera pun segera dikeluarkan dari tas ranselnya. Maman langsung mencari objek massa yang sedang mengamuk.
Tiba-tiba, ketika baru baru beberapa jepretan dilakukan, puluhan pemuda tiba-tiba menyerangnya.
“Tangkap dia! Habisi dia!” teriak massa.
Maman berusaha kabur. Namun, jumlah massa yang terlalu banyak membuat dia mati langkah. Tanpa ampun, massa pun menghajar Maman beramai-ramai hingga wajah dan tubuhnya babak belur. Seseorang mengeluarkan pisau dari pinggangnya dan siap ditusukkan ke tubuh Maman. Untung ada Agus, teman Maman yang pernah jadi juara karate tingkat nasional, melerainya.
“Dia wartawan, teman saya!” teriak Agus sambil mengamankan Maman.
Massa yang sudah kalap terus mengamuk. Selain membakar tiga truk ban bekas, massa juga merusak lampu taman kota, pot-pot bunga, dan melempari kantor Pemda Lampung Selatan. Lampu lalu lintas dan kaca Hotel Kalianda tak luput dari sasaran.
Alzier tak luput dari sasaran amuk massa. Massa mengejar Alzier dan melemparinya dengan batu kali. Namun, aparat sigap mengamankannya. Alzier pun berhasil lolos dan diselamatkan dengan sedan merah menuju Bandar Lampung.
Keadaan dapat dikendalikan sekitar pukul 15.00, setelah pasukan Brigade Mobil dan Pengendali Massa (Dalmas) Polda Lampung didatangkan dari Bandar Lampung.
Kursi bupati memang sudah berada di depan mata Alzier.Namun, keunggulannya dalam pemilihan tahap pertama tak otomatis kursi bupati langsung diraihnya. Alzier masih harus bertarung dalam pemilihan tahap kedua karena tidak berhasil menang dengan suara setengah plus satu dari jumlah anggota DPRD Lampung Selatan. Alzier masih harus bersabar menunggu pemilihan tahap kedua yang rencananya akan digelar pada 2 Maret 2000.
Mujur tak dapat diraih, malang pun tak dapat dihindari. Seminggu sebelum pemilihan tahap kedua digelar, kiamat kecil melanda Alzier. Sebuah berita di Harian Kompas menghapus mimpinya untuk menjadi bupati. Alzier diberitakan telah ditangkap polisi Polres Tangerang karena terlibat kasus penadahan mobil curian. Alzier dan tim suksesnya kelimpungan. Mereka sibuk melakukan klarifikasi.
“Saya tidak pernah ditahan polisi semenit pun,” kata Alzier. “Berita itu bernuansa politis untuk menjatuhkan saya.”
Tak cuma berita harian Kompas yang menohok Alzier. Tiga hari menjelang pemilihan tahap kedua, kembali beredar selebaran fotokopi surat panggilan untuk Alzier dari Polda Metro Jaya. Isinya, Alzier dipanggil untuk diperiksa sebagai tersangka dalam tindak penipuan terhadap R.A. Parasvati Suncar, warga Jl. Bangka Raya No. 7, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Yang mengherankan, kasusnya sendiri terjadi pada tahun 1995.
Kiamat kecil itu benar-benar terjadi pada Rabu siang yang panas, 2 Maret 2000. Alzier kalah telak dari Zulkifli Anwar. Dari 43 suara anggota DPRD, Alzier hanya memperoleh 15 suara, sementara Zulkifli unggul dengan 28 suara. Mimpi untuk menjadi bupati pun dengan terpaksa dikuburnya dalam-dalam.
***
VIII
SIAPA Alzier Dianis Trabranie sebenarnya? Benarkah dia konglomerat yang bisa “menggenggam” Lampung? Benarkah dia “Si Robinhood” yang tangguh dan pemberani?
Alzier dilahirkan di Yogyakarta pada 8 November 1957. Ia berasal dari keluarga yang sangat terpandang di Lampung. Ayah Alzier, Haji Muhammad Thabranie Daud, pernah menjadi Walikota Bandar Lampung selama dua periode (1968—1973 dan 1973—1976). Mertua pertamanya, Raden Mas Muhammad, adalah residen Lampung era 1960-an. Istri pertama Alzier, Sundari, adalah adik kandung kandung Letjen (Purn) Himawan Soetanto sekaligus adik ipar Soesilo Soedarman, mantan Menkopolsoskam era Soeharto.
Pada 1988, ketika masih resmi menjadi suami Sundari, Alzier menikahi Syafariah Widianti, putri sulung H. Zainal Abidin Pagar Alam, gubernur Lampung periode 1967—1973. Widianti, yang usianya terpaut 11 tahun di atas Alzier, adalah kakak kandung Komisaris Polisi (Purn) Sjachroe¬din Zainal Pagar Alam, bekas Deputi Operasional Kapolri.
Kepada majalah Forum, Syafariah Widianti pernah mengaku sangat kecewa menyaksikan sepak terjang Alzier akhir-akhir ini. Menurut Atu Ayi, sapaan akrab Widianti, sejak satu setengah tahun terakhir Alzier jarang pulang ke rumahnya di Kelurahan Tanjungbaru, Kecamatan Sukarame, Bandar Lampung. Alzier lebih betah berkumpul dengan teman-temannya di vilanya yang megah di Kelurahan Segalamider, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung. Di vila itu pula, menurut salah seorang teman saya, Alzier dan tim suksesnya merancang strategi untuk memenangkan pemilihan gubernur.
Alzier terakhir pulang menemui Widianti pada 23 Maret 2003. Setelah itu, mereka tak pernah bertemu lagi sampai Alzier masuk DPO (daftar pencarian orang) Mabes Polri, Dia tahu Alzier ditangkap paksa polisi dari koran dan televisi.
“Bagaimanapun dia suami saya. Sepak terjang dia dan akibat yang ditimbulkannya berpengaruh terhadap keluarga saya,” tutur Widianti.
Menurut Widianti, dulu Alzier sangat perhatian kepada keluarganya. “Sewaktu belum punya rumah, kami sering keluar masuk hutan di Sumatera Selatan untuk mencari kayu. Kadang kami sampai tertidur di mobil,” kenangnya. “Tapi sekarang semuanya sudah berubah.”
Meski tidak hidup seatap lagi, Widianti mengaku dia belum bercerai dengan Alzier. “Banyak orang menganggap saya tidak mau bercerai dengan Bang Alzier karena saya ingin jadi istri gubernur. Itu salah besar. Maaf, biarpun begini saya ini anak gubernur. Jadi saya tidak silau dengan jabatan,” ujarnya.
Ketika mencalonkan diri sebagai gubernur Lampung hubungan keluarga besar Zaenal Abidin Pagaralam dengan Alzier sudah tidak mesra lagi. Buktinya, Sachroedin Zaenal Abidin Pagaralam, adik kandung Widianti, terus maju untuk mencalonkan diri sebagai gubernur meski tahu Alzier, sang kakak ipar, juga maju sebagai calon gubernur.
Meski tidak didukung kakak ipar, Alzier tetap nekat maju. Tim sukses yang kuat sudah dia bentuk. Meski tidak terstruktur rapi, tim sukses Alzier yang terdiri atas para wartawan dan akademisi itu tampak lebih siap ketimbang tim sukses dari calon lainnya. Kampanye gencar mereka lakukan untuk menangguk simpati.
Melesat bak meteor, karier politik Alzier senantiasa diiringi kontroversi. Sebelum era reformasi bergulir pada Mei 1998, Alzier masih tercatat sebagai pentolan Golkar. Setelah reformasi, pada 1999 Alzier loncat pagar dan masuk ke kandang banteng menjadi kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Sukses menduduki jabatan ketua Pusat Koperasi Unit Desa (Puskud) Saburai Provinsi Lampung dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah Lampung pada tahun 2001, makin melempangkan jalan Alzier untuk meraih sukses jadi orang nomor satu di PDIP Cabang Lampung Selatan.
Sebagai bos partai besar dan pengusaha, Alzier termasuk royal kepada para anak buah. Beberapa bulan setelah menjabat ketua PDIP Lampung Selatan, misalnya, Alzier langsung membagi puluhan handphone dan sepeda motor kepada para kader PDIP di tingkat ranting (kecamatan). Pembangunan kantor Cabang PDIP Lampung Selatan, yang berdiri megah di sisi jalan raya Kalianda, juga tak lepas dari usahanya.
Dermawan. Itulah sifat yang melekat pada diri Alzier yang disukai kolega dan orang-orang terdekatnya. “Dia paling tidak bisa melihat orang lain susah,” kata Heri Wardoyo, wartawan Lampung Post, yang sempat pernah dekat dengan Alzier.
Kedermawanan Alzier barangkali diwariskan dari ayah kandungnya, Haji Muhamad Thabrani Daud, bekas Walikota Bandar Lampung (1968-1976). Konon pada saat menjabat sebagai walikota, Thabrani sangat membela anak buahnya. Pernah suatu ketika, bekas bawahan Thabrani ini dibebaskan dari semua utangnya ke Pemda karena yang bersangkutan bergaji kecil.
“Bang Alzier memang sangat dermawan dan solider. Sifat inilah yang membuat dia banyak teman dan disukai orang,” kata Mahendra Utama, bekas aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) Lampung.
Menurut Mahendra, Alzier punya beberapa sifat yang membuat orang lain sulit untuk tidak suka kepada dia. “Antara lain dia itu adalah tidak pendendam. Sifat tidak pendendam itu bisa dibuktikan dari beberapa fakta,” ujar Ariansyah.
Mahendra mencontohkan Alzier yang tidak dendam dengan Bupati Lampung Selatan Zulkifli Anwar. Padahal, saat pemilihan Bupati Lampung Selatan pada bulan Maret 2000, Zulkifli menjadi saingan terberatnya. Bahkan, ketika itu Zulkifli diduga punya andil menjegal Alzier. “Sekarang Bang Alzier justru sangat akrab dengan Zulkifli Anwar. Bahkan, dia termasuk yang menyokong perjuangan Bang Alzier maju sebagai calon gubernur,” ujar Mahendra.
Meskipun dari luar kelihatan seperti pengusaha sukses, saya minim informasi tentang perusahaan apa milik Alzier yang sukses. Informasi yang cukup akurat justru menyebutkan bahwa Alzier memiliki tunggakan hutang kepada PT Pusri sebesar Rp 10 miliar lebih.
Memang dia menjadi orang pertama di Puskud Saburai dan Kadin Lampung. Namun, hasil penelusuran saya menunjukkan sulit untuk menyebut Alzier sebagai pengusaha sukses. Nah, dari mana modal untuk maju sebagai calon gubernur yang katanya mencapai ratusan miliar rupiah itu?
Mencermati hasil usaha Alzier yang biasa-biasa saja, pandangan mata pun kemudian terfokus kepada A Yin, janda mendiang Akiong. Sejumlah pengusaha besar di Lampung menyetor uang ke Alzier melalui A Yin untuk modal maju jadi gubernur.
Orang acap menyebut Alzier playboy,mungkin, lantaran dia beberapa kali kawin. Saat masih menjadi suami Sundari, misalnya, pada 1988 Alzier menikah lagi dengan Syafariah Widianti. Alzier bercerai dengan Sundari pada tahun 1995. Lalu, meski diketahui masih berstatus suami Syafariah Widianti, Alzier dikabarkan menjalin hubungan asmara dengan A Yin, istri mendiang A Kiong. A Kiong adalah pengusaha besar di Lampung yang memiliki beberapa perusahaan.
Ayin, adalah pewaris kelompok bisnis PT Aman Jaya yang bergerak di bidang produksi air mineral dan bank perkreditan. Ayin masih kerabat dekat Syamsul Nursalim, taipan pemilik grup Gajah Tunggal yang menanamkan ladang bisnis di Lampung melalui tambak udang terbesar di Asia Tenggara: PT Dipasena Citra Darmaja (DCD). A Yin-lah yang mengkoordinir dana memuluskan perjuangan Alzier.
Informasi dari lingkaran terdekat Alzier menyebutkan, hubungan A Yin dengan Alzier mulai merenggang setelah Alzier memenangkan pemilihan gubernur, akhir Desember 2002 lalu. Penyebabnya: Alzier dekat dengan Imelda, salah seorang stafnya di Kadin Lampung. Bahkan, ketika Alzier berada dalam “pelarian” keduanya menikah.
Pengamat politik Jauhari Zailani menilai Alzier adalah tokoh muda fenomenal dari Lampung. “Dia itu cerdas dan cepat menangkap pelajaran. Bayangkan, hanya butuh waktu tak kurang dari lima tahun untuk ‘menguasai’ Lampung,” kata Zailani.
Karier politik Alzier memang cepat melesat cepat bak meteor. Pada tahun 1997 Alzier masih tercatat sebagai pentolan Golkar di Lampung. Seiring dengan bergulirnya era reformasi, pada 1999 Alzier belok arah: masuk kandang Partai Banteng alias PDI Perjuangan. Tak lebih dari empat tahun menjadi kader PDIP Lampung Selatan, pada tahun 2001 Alzier sudah memimpin PDIP Lampung Selatan.
“Setelah gagal menjadi bupati Lampung Selatan pada Maret 2000, dua setengah tahun kemudian dia muncul sebagai kandidat gubernur. Dan dia berhasil meraih terbanyak, meski nasibnya kemudiannya terkatung-katung hampir setahun,” ujar Zailani.
Meski bisa menyetujui penilaian bahwa Alzier cerdas, sampai sekarang saya tidak berani menyimpulkan bahwa Alzier adalah sosok Robinhood Si Pemberani. Terutama setelah saya melihat air muka Alzier saat direnggut paksa oleh polisi untuk dimasukkan ke helikopter. Iseng-iseng saya perhatikan foto saat kerusuhan pemilihan bupati Lampung, Maret 2000 lalu. Dalam foto tergambar bagaimana takutnya Alzier mendapatkan serangaan massa.
***
.
SABTU sore, 1 November 2003, telepon di rumah saya berdering.
“Halo, ini nomor berapa? Di mana? Ini rumah siapa?” suara berat dari seberang sana memberondong istri saya dengan rententan pertanyaan.
“Ini siapa ya?” istri saya balik bertanya.
“Alzier”
“Oh ya, suami saya ingin wawancara Abang,” istri saya langsung ‘nyambung’.
“Wah, tentang apa ya?”
“Katanya sih tentang berbagai sorotan miring yang dituduhkan kepada Abang selama ini,” jawab istri saya.
“Ya sudah, kalau begitu suruh suami Anda menemui saya Senin atau Selasa. Saya sekarang sedang berobat di Jakarta,” ujar Alzier.
Saya merasa surprise begitu mendengar Alzier langsung menelepon ke rumah untuk diwawancarai. Sebelumnya saya sudah setengah patah semangat untuk bisa mewawancaraai Alzier, terutama setelah kasus dia mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, 15 Oktober lalu.
Beberapa kawan wartawan mengaku belakangan ini makin sulit mewawancarai Alzier, terutama oleh wartawan yang sudah telanjur dipetakan sebagai “bukan pendukung Alzier”. Saya masuk wartawan jenis ini karena selama ini bernaung di AJI.
Seluruh teman saya yang dekat dengan Alzier saya mintai tolong untuk menghubungkan dengan Alzier. Pertama kali yang saya mintai tolong adalah Mahendra Utama, aktivis Pusat Studi Strategi dan Kebijakan. Saya tahu Mahendra pernah menjadi penasihat politiknya Alzier.
“Ini kesempatan Alzier untuk membeberkan tentang dirinya, terutama evakuasi paksa oleh Mabes Polri. Saya persilakan dia bercerita tentang dirinya menurut versi dia sendiri,” ujar saya kepada Mahendra.
Mahendra pun bergerak cepat. Tak begitu lama dia memberikan kepastian bahwa Alzier siap diwawancarai. Menurut Mahendra, Alzier siap diwawancarai setelah selesai sidang kedua, 29 Oktober 2003.
Senin sore, 29 Oktober 2003, saya mencoba mengontak Alzier lewat telepon genggamnya. Beberapa kali saya mengontak, tapi tak pernah diangkat. Karena bosan, akhinya saya kirim pesan bahwa saya ingin mengadakan janji untuk wawancara.
Sampai dua hari tetap tak ada jawaban. Saya mencoba mengontak Ali Imron, kawan saya dulu di Lampung Post dan harian Trans Sumatera. Ali Imron adalah pengelola Lembaga Pendidikan Primagama yang dikenal sangat dengan Alzier. Bersama Rio Teguh, ketua Persatuan Wartawan Indonesia cabang Lampung, Imron termasuk ring pertama orang kepercayaan Alzier.
HP Imron selalu tidak aktif. Begitu juga ketika saya mengontak Andi Arief, aktivis SMID. Andi, yang hobi berganti-ganti nomor HP, juga sulit saya hubungi. Saya mencoba mengontak lewat telepon ke rumahnya, tetapi tak pernah diangkat.
Secercah harapan muncul ketika saya mengontak Rozali, teman baik saya sewaktu sama-sama bekerja di Lampung Post. Rozali, yang kini menjadi pengacara Puskud Saburai, lembaga yang dipimpin Alzier, berjanji akan merayu Alzier agar mau diwawancarai.
Beberapa jam kemudian Rozali menghubungi saya. “Wah, sulit kawan. Coba ente hubungi Bang Ariansyah, pengacara Bang Alzier,” kata Rozali.
Senin malam, 3 November 2003, saya kontak Ariansyah via HP-nya. Dari balik telepon, nada suara Ariansyah sangat memberikan harapan.
“Oke, kalau begitu besok Selasa kita ketemu di PWI saja ya,” ujar Ariansyah, sebelum kami menghentikan percakapan lewat telepon.
Selasa sore Ariansyah kembali saya kontak. Ternyata dia tidak bisa menemui saya karena sedang mendampingi seorang kliennya. Sore itu juga saya kontak Alzier. Beruntung, Alzier mau menjawab.
“Waduh, aku masih capek ini. Baru saja pulang berobat dari Jakarta. Tapi okelah, nanti malam kamu saya kontak. Kita ngobrol-ngobrol di rumah,” ujarnya.
Selasa malam, pukul 20.12, selepas buka puasa, HP saya berdering tanda ada pesan masuk.
Ariansyah mengirim pesan: “Gua udah kontak Bang Alzier, tapi dia bilang mau diam dulu. Masalahnya, dia merasa selalu divonis jelek dan salah oleh kawan-kawan pers. Bahkan dia merasa dianiaya. Kemarin baru baik, sudah dihantam lagi sama Fadilasari. Tahu kan koran Tempo? Bang Alzier lagi benar-benar takut sama kawan wartawan. Tolong kasih waktu.”
Sekarang saya baru tahu persis kenapa Alzier sangat sulit diwawancarai. Sebelumnya saya sangat heran, karena selama ini Alzier dikenal dengan wartawan.Ia termasuk tokoh yang suka publikasi.
Saya langsung kontak Fadilasari untuk menanyakan berita tentang Alzier di koran Tempo edisi Kamis, 30 Oktober 2003. Saya sendiri memang belum membaca berita itu.
Di bawah judul “UT Bantah Alzier Pernah Jadi Mahasiswa”, koran Tempo edisi 30 Oktober 2003 menulis bahwa Alzier memakai ijazah ilegal. Tempo juga mengutip komentar Mingrum Gumay, (mantan) anggota DPRD Lampung dari Fraksi PDIP, bahwa proses hukum terhadap Alzier bisa menjadi masukan bagi Presiden Megawati untuk membatalkan pengangkatan Alzier sebagai gubernur.
“Kalau seorang tahan dilantik menjadi gubernur, bisa-bisa rakyatnya jadi garong semua,” demikian koran Tempo mengutip ucapan Mingrum.
Gara-gara tulisan itulah Alzier bertambah stres dan menutup diri terhadap wartawan. Fadilasari mengaku Alzier langsung menelepon dirinya dan keberatan dengan tulisan yang memojokkan Alzier itu.
“Orang-orang Alzier seperti Andi Arief dan Dasriel Yanto juga terus menelepon. Mereka minta ketemu. Andi sempat mengomeli saya dan menyebut saya tidak becus membuat berita,” kata Fadilasari.
Namun, ketika saya konfirmasi, Andi Arief membantah bahwa dirinya telah mengomeli Fadilasari. ….(bersambung)
*Jurnalis, tinggal di Bandar Lampung
Catatan: Dilarang menerbitkan tulisan ini tanpa seizin penulis