Sajak-Sajak Oyos Saroso H.N.
gadis itu termangu di belakang pintu. di kilau
matanya tersimpan rahasia badai berabad lampau
tentang ulun Lampung yang gagah
tapi hilang ditelan desau yang pongah
tentang kapal-kapal VOC pengangkut getah damar
dan kembali dengan pendar benang sutera India
sebentar lagi keloneng canang dan keprak rebana
akan mengantarnya ke latar nuwo balak
tempat semua orang siap tergelak
menyaksikan gadis penenun tapis
menjelma ibu
berurai tangis
tapi ia masih di balik pintu
dengan siger dan serenja bulan di atas kepala
dan buah manggus di tangan
sementara
mulan temanggul, bulu serti, gelang burung,
dan belasan rajah memenuhi tubuhnya
mengingat semuanya, ia teringat berhektar repong
damar,
sarang kelemanyar,
dan serpihan luka lama yang selalu berdenyar
ingin ia melarung penghias kepala serupa mahkota,
juga mulan temanggul penghias dada
ke Way Haru biar ngalir ke laut lepas
atau
menetaknya dengan batu hingga kenangan tandas
tapi niat selalu urung
kerna takut tulah dan kutukan
–dia terkurung
bagai laron-sunglung tersesat di lurung suwung
ia pun menjerit pelan, menahan sakit
saat sebuah tangan dengan keras
menggamit
”bersiaplah! inilah waktumu
jadi Ratu Permata Dunia!
canang bertalu-talu, ia keluar dengan wajah
bersemu dadu
bersama suntan lelaki pilihan ibu,
ia duduk di atas tandu
namun
ia tak pernah tahu kapan serat-serat cintanya
akan bertemu
membentuk sulaman pada kain tapis
yang disulamnya sepanjang pagi-petang
hijau repong damar, padi menguning menghampar
kini tinggal kenangan. semua terkikis
untuk pesta adat
tujuh hari tujuh malam
beribu purnama pun lewat
bagai bayang berkelebat gagal dicatat
perempuan itu termangu di balik pintu
–menamatkan tisikan sulaman
tapis keseribu
kini ia pun tahu:
dua telapak tangannnya
lebih besi tinimbang batu!
Januari—Februari 2007
*) Perkawinan yang diatur oleh orang tua atau kerabat dalam masyarakat adat Lampung pesisir. Inisiatif perkawinan berasal dari orang tua atau kerabat mempelai laki dan perempuan.