Puisi Oyos Saroso H.N.
lukisan gugusan air mata ibu telah membawanya
menuruni teratak tangga kayu di depan pintu. hatinya berdenyar
saat tahu getah damar yang ditempelkan di dinding kayu dicuri orang
semalam ia menempelkan sejumput getah damar
di dinding belakang lamban. kata ibu, getah damar itu
akan mengundang seorang pangeran datang. dialah
pangeran berhidung mancung yang datang dan pergi
dari rerimbun Bukit Barisan dan balik gunung
“suatu waktu pangeran akan datang bertandang
untuk menjemputmu mengembara ke negeri harum belukar…”
ia selalu ingat pesan ibu. juga kini, ketika bijih besi
yang dikandung ibu bumi telah disulap menjadi untaian mimpi
ia pun terus menuruni anak tangga. sepoi angin tenggara
meriapkan helai-helai rambut aroma kemboja
ia baru tersadar telah menjejak tanah
saat seorang pangeran muda menunggang kuda datang
“apakah tuan yang akan membawaku ke pantai seberang?
getah damar telah mengabarkan, inilah saatnya aku berlayar…”
sang pangeran tersenyum dengan sedikit anggukan. lalu,
seperti angin, kuda itu berlari membawanya
dalam dekapan pangeran. di dermaga pantai di balik gunung
mereka pun berlayar…
berbilang purnama berbilang tahun, tak terdengar kabar
ia pulang untuk menyulam tapis di lamban. puluhan
perahu besar datang dan pergi mengangkut getah dan biji kopi
namun ia tak ada kabarnya lagi
di lamban Kenali, beratus tahun ibu mengurung diri
menanti anak gadisnya kembali…
Bandarlampung, Oktober 2006
*) rumah panggung khas Kenali, Lampung Barat
Puisi ini pernah dimuat Media Indonesia Minggu (2006)