Bismillahirrahmanirahim
Geni mati dadi mani. Mani mati dadi rasa
Rasa mati dadi Allah**)
tapi siapakah yang mengirim badai sepagi ini?
lokan masih mlungker di dalam cangkang
sementara para wader baru saja keder diubek campang
astaga! cahaya itu berkelebat secepat kilat
Ia memetik beribu ruh. semudah
menjentik daun-daun yang siap jatuh
seperti meniup lilin dalam satu hembusan
”tuan, tunggu, seharusnya ini masih dinegosiasikan!”
cahaya itu pun terus berkilatan
diiringi badai
dan doa yang tak pernah usai
senyiru haru tiap hari aku kirimkan
tapi kabar lelayu itu selalu datang
kini aku pun tak bisa lagi menerka datangnya gerimis
kerna japa-mantraku telah kalis
oleh bandang tawan-tawan tangis
dan kilat cahaya itu
akan terus pergi dan datang
serupa angin yang berkesiur mencari sarang
dari padang ke padang
Bandar Lampung, 2005—21 April 2007