sepanjang usia, ibu menyulam nasib dengan air mata. di tisiknya setiap derita menjadi manik-manik cinta penghias ruang keluarga. tak pernah kujumpa ayah biar hanya sekejap. kabarnya, ayah telah ditelan senyap. ditakdirkan sebagai pengembara, serupa kupu-kupu yang dikutuk menjadi penyerbuk bunga
dan kami hanya kepompong di garba asing yang sunyi, sementara air mata ibu menjelma telaga yang tak pernah kering, menderas antara dua mata air. kami selalu membasuh muka di situ, sambil mengenang duka cita yang ditisik ibu dengan pintalan benang masa lalu
suatu waktu, di tengah-tengah telaga air mata ibu, menjelma tugu dengan pendar beribu lampu. tapi tak kutemui wajah ayah di situ. juga wajah saudara-saudaraku yang kadung dikutuk menjadi ulat-bulu
“jangan kirimi aku bangkai anjing!” teriak ibu. ketika itu, kami habis pesta kebun, merayakan duka cita agung seabad kepergian ayah. di antara lampu sorot warna merah-biru yang menerangi kepakan ribuan codot, tiba-tiba seorang laki-laki menyeruak dari balik perdu. lelaki berpiyama kuning dengan cangklong gading di tangannya itu,matanya persis mataku
dalam mimpiku, lelaki bercangklong gading itu menjelma srigala dan mengoyak tubuh ibu…
Bandarlampung, 2005