“aku ingin menulis cuaca”, katamu
lalu di depan pintu engkau termangu
teringat dua batang pohon tebu. dulu
dua batang itu kusiapkan untuk tangga
bagi tedak siti si bungsu
“tapi ia tak mungkin kembali,” katamu
lalu air mata pun leleh di kedua pipimu
kuhapus dengan cinta
untuk dia yang tiada
tapi air mata itu terus mengalir
menggenangi rumah
merendam luka bersama getah cintaku
kini kau selalu menulis cuaca
tiap pagi dan senja….
Bandarlampung, April 2008