akhirnya aku harus menulis angin. desau yang selalu berkesiur di tiap waktu
di rumahku, yang selalu gigil dan beku, angin seperti mati
ya, mati. setelah si bungsu yang kuukir dengan jiwa ragaku
di petik dari dahan-Nya
akhirnya aku harus menulis angin. maut yang siap menjemput
kapan pun Dia mau. ah, aku jadi ingat kata-kata Endang Supriadi:
Tuhan selalu mempermainkan kita!
ya, akhirnya, aku pun harus main-main. mungkin
di taman ini permainan tak akan pernah selesai
dan kuharap tak akan pernah selesai…
Bandarlampung, 21 April 2007